Advent Tambun : Dari Kota Solo ke Kantin Diplomasi

(terbit di SOLO POST, 06.02.2020)

Kamis, 11 Nopember 2019, saya tiba lebih cepat di Kantin Diplomasi jalan pejambon. Tempat ini belakangan menjadi sangat familiar bagi rekan-rekan pengiat export produk-produk Indonesia. Sejak Dubes Jonny Sinaga membuat WA group, kantin ini menjadi hang out mudah dan meriah. Para pengusaha kelas menengah ke bawah ini dengan senang hati ketika dibantu untuk melakukan pertemuan-pertemuan kecil dan menjalin silaturahmi sesama pengusaha.

Diskusi-diskusi kecil yang terjadi di dunia maya menjadi kekerabatan yang unik di dunia nyata. Rasa kekeluargaan semakin terasa dan dinamika pertukaran informasi begitu cepat. Seorang pengusaha yang membutuhkan informasi di sebuah negara tertentu difasilitasi oleh KBRI dengan sangat mudah, tanpa sekat dan tanpa batas.

WA group itu awalnya dibuat oleh Dubes Jonny Sinaga untuk mempersiapkan para pengusaha yang siap export pada TEI 2019. Semua kalangan berkumpul di WA gratis tak berbayar itu. Mulai dari diplomat senior, junior, karantina, jaminan halal, pajak, beacukai dan tentu saja para pengusaha yang haus akan devisia.

Dari pertempuran ide dan diskusi debat kusir menuju pada arah yang jelas untuk meningkatkan export Indonesia ke non tradisional market. Sebuah contoh real pernah terjadi, ketika sebuah produk tersendat di kantor karantina provinsi karena satu dan lain hal. DAlam hitungan menit, informsi masalah itu sampai ke teliga pimpinan kantor pusat karantina yang juga berada dalam WA group, dan sebuah telefon singkat menyelesaikan semuanya. Hanya hitungan menit!
Kenyataan ini membuat para peserta terbakar semangatnya. Demikian juga ketika Kementrian Koperasi memberikan pelayanan satu pintu untuk urus sertifikasi bagi UMKM dan Koperasi.
Semua bersyukur dan bergembira serta yakin bahwa pemerintah sudah mulai memberikan keberpihakan kepada para pengusaha, ujung tombak pencarian devisia. Pemerintah dengan sadar menempat diri sebagai supporting system dari diplomacy economy ini. Pemerintah meratakan jalan infrastruktur urusan perdangangan internasional agar para pengusaha dengan mudah melakukan penetrasi ke negara non tradisional.

Kembali ke cerita di atas, hari kamis pukul 09.00, suasana kantin Deplu masih sepi pengunjung. Hanya satu dua diplomat yang datang, mungkin belum sempat sarapan di rumah. Saya kebetulan datang untuk melakukan pertemuan dengan perwakilan perusahan Indonesia membicarakan peluang export barang ke Amerika Latin. Sayang nan disayang, pertemuan itu ternyata salah hari. Saya salah menuliskan agenda. Pertemuan itu seharusnya dilakukan satu minggu ke depan.
Di ujung WA, perwakilan perusahaan itu minta maaf sambil tertawa, dan saya juga demikian menertawakan kebodohan saya sendiri.

Pukul sembilan pagi, hari masih pagi untuk pulang ke kantor. Saya memutuskan untuk berkantor di kantin Deplu yang bersih, rapi dan semua tenant sudah melewati seleksi kesehatan. Saya memutuskan mencari kopi.
Sebagai pengerak kopi di level petani, kopi sebagai komoditi export menjadi santapan harian saya. Mencari buyer asing dan lokal menjadi liturgi harian saya.
Syukurlah ada warung kecil penjaja kopi di salah satu sudut kantin. Tanpa basa-basi saya langsung meminta segelas kopi kepada mas baristanya. Tetapi alanghak kagetnya saya, ketika mas barista mengatakan bahwa mereka tidak memiliki V60. Saya selalu minum V60 untuk mengetahui kualitas sebuah kopi.

Sejarah kecintaan saya kepada kopi, dalam hal ini kopi karo adalah minum kopi dengan cara V60 yang diseduh oleh seorang barista ketika saya masih di Solo. Saya bukan peminum kopi dan tidak pernah tahu apa itu kopi. Tetapi ketika saya melan kopi yang disiapkan oleh mas barista di salah satu kafe di Solo, mata saya seperti terbelalak.

Kopi Karo, pasca panen dengan proses natural diseduh dengan V60, menghasilkan rasa yang tidak terbayangkan oleh otak saya. Biasanya orang yang minum kopi, otaknya akan bekerja memberikan sinyal bahwa yang ia minum itu adalah pahit. Nah, persis sebaliknya yang muncul di saraf-saraf lidah saya. Rasa pahit sama sekali tidak ada. After tesnya, asam kemanis-manisan. Dikemudian hari istilah ini disebut dengan sebutan fruty, rasa buah.
Dan sejak saat ini saya berubah pikiran, perasaan dan tindakan terhadap kopi, kopi karo tentunya. Saya berubah menjadi siswa yang haus ilmu dan memutuskan keluar dari pekerjaan untuk berguru kepada Dr. Ir. Sri Mulato, Peneliti Kopi dan Cokelat dan pernah bekerja di Puslit Jember selama 30 tahun.

Beliau lulus teknik kimia di UMG dan melanjutkan S3 di Jerman untuk memperoleh ilmu teknik mesin. Bertemu dengannya seperti bertemu dengan kamus kopi dan cokelat berjalan. Kedalaman ilmu kopi dan cokelatnya sejajar sejalan dengan ketegasan dan keseriusan seorang teknisi mesin. Ia membuat mesin sangrai, dalam segala level. Mulai dari kapasitas 100 gram hingga 5 kg per batch.
Saya memulai pelajaran dasar saya tentang kopi dengan menyibukkan diri di ruang produksi dan menyentuh setiap hari mesin sangrai mungil. Setiap hari hingga saya benar-benar bosan.
Tetapi bukan itu saja, kami, waktu itu kami berdua, diminta untuk mengali lobang untuk menanam kopi. Menama kopi di dataran rendah seperti Solo, pasti hanya kopi robusta, kopi yang kafeinnya tinggi.

SAya sudah tidak terbiasa denga cangkul dalam pekerjaan saya, tetapi proses cangkul lobang itu diawasi oleh Dr.Sri Mulato dari jauh. Dan ketika lobang itu selesai, ia berkata, begitulah susahnya petani mengali setiap lobang untuk setiap kopinya, ingat itu! Sebuah nada serius dari orang tua kelahiran Wonogiri yang tentu nuansa Jawanya sangat terasa. Tetapi ketika memberikan petuah seperti itu, saya lebih merasa bahwa beliau adalah orang Batak, keras dan tegas.
Tak tangung-tanggung, kami pun harus mencari kotoran sapi segar untuk dijadikan sebagai booster pengurai sampai dedaunan. Tugas saya adalah mencari kotoran sapi di tengah kota Solo, syukurlah ada kotoran sapi. Saya bawa, lalu dicampur dengan air lalu disirimkan ke sampah yang sudah bertumpuk. Saya tentu lakukan dengan penuh kehati-hatian, setitik tinja yang kena ke celana akan membuat sepanjang hari beraroma tak sedap. Lagi-lagi dari jauh beliau mengamatinya. Dan sesudahnya ia berkata, kalau kamu serius mau bantu petani, pelajari dan rasakan semua itu. Jangan sesekali menganggap pekerjaan mencari pembeli, buyer atau importir kopi adalah pekerjaan mudah yang bisa kamu lakukan di dunia maya. Pertama dan utama yang mesti diketahui adalah perjuangan para petani dan pengenalan biji kopi.

Saya menghabiskan waktu selama enam bulan untuk mengamini kata-kata itu. Enam bulan yang tentunya tidak mudah bagi seorang ayah dua anak. Saya harus memutuskan untuk meninggalkan masa inkubasi itu karena tuntutan real rumah tangga. Di kemudian hari saya sangat bersyukur bahwa saya mengalami semua proses panjang, berat dan sesekali mengasikkan tersebut.
Kembali ke kedai kopi yang ada di kantin Deplu. Bayangan saya sebuah kedai kopi di salah satu kantin terbaik di kementrian Repbulik Indonesia, saya berharap akan menemukan kopi dengan citra rasa nusantara. Sayang seribu sayang, saya menemukan kopi racikan tepi jalan. Tidak ada roasted bean, tidak ada sampel kopi nusantara, yang ada hanya kopi bubuk dari dua jenis, Toraja dan Gayo.

Sejenak saya berdiri mematung, membalikan badan, dan melihat ruangan indah Kantin Diplomasi seperti sunyi senyap, kering kerontang. Mengapa tidak dibuatkan kedai kopi dengan nuansa edukatif dan promotif kepada para diplomat muda, agar mereka paham tentang industri kopi dan citra rasa kopi nusantara. Bukankah diplomat-diplomat ini akan menjadi tulang punggun dalam proses pembangunan infrastruktur diplomacy economy?
Pertanyaan itu membuatku duduk termenung berjam-jam di kantin Deplu, dari pukul 09 hingga 12:00. Apatah yang akan dikatakan seorang diplomat muda ketika ditanya tentang kopi Indonesia oleh sesama diplomat lain ketika ia bertugas di luar negeri. Saya cuma berharap agar ia tidak mengatakan, saya tidak tahu tentang kopi, saya hanya penikmat kopi saja. Saya hanya berharap hal itu tidak terucap.

Tiga jam, saya berdoa pada Tuhan agar kedai kecil yang ada di sudut kiri Kantin Deplu itu berubah menjadi MINI KAFE EDUCATIF DAN INFORMATIK untuk kopi-kopi NUSANTARA. Tempat di mana para diplomat muda dilatih untuk membiasakan hidung dan lidahnya dengan ratusan citra rasa kopi nusantara.
Sembari berzikir, saya menceritakan kejadian ini kepada bekas guru kopiku, Dr. Sri Mulato, dan dia hanya berpesan, bila sekiranya mesin roasting mulatoz ini ada di kantin itu, mungkin bisa menjadi basic step pendidikan kopi bagi diplomat muda. Demikianlah saya mengamini doa ‘prof’ (saya menyebutnya profesor, karena memang ia sempat memiliki gelah profesor peneliti) dan pergi meninggalkan Kantin Diplomasi menuju pertemuan di Kementrian Koperasi. Karena bagi kami, tulang punggun industri kopi nusantra terletak pada koperasi.
Tergiang diteliga saya ketika pada hari libur kesaktian Pancasila, saya mengirimkan WA kepada ‘prof’ untuk menannyakan kemana liburan pada hari kesaktian Pancasila, 1 Juli. Dan ia menjawab ‘ saya merayakan kesaktian Pancasila dengan bekerja di kantor’ Jawaban ini saya balas dengan jawaban singkat ‘siap, Prof!’

22 Nopember 2019

Advent Tambun
Rumah Kopi Karo

*telah terbit di SOLO POST paper 3 Februari 2020

Check Also

Opini: MOHAMED SALAH yang SOLEH

Salah satu yang menjadi daya tarik sajian berita olahraga adalah goresan grafis yang artistik dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − 11 =