CATATAN TEPI ARAH: Yudi Latif, Politik dan Budaya

http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/08/25/yudi-latif-revolusi-mental-solusi-kemajuan-bangsa

Kompas menurunkan dua tulisan yang menarik pada hari Kamis, 25 Januari 2018, di halaman depan muncul tulisan Yudi Latif, pemikir muda dan di tengah halaman, tepatnya pada halaman opini muncul tulisan tentang Daoed Joesoef, pemikir ulung yang selalu membuat opini panjang lebar, meluas dan mendalam. Kini kita tidak akan lagi membaca tulisan-tulisan bernas dari Mantan Mentri Pendidikan tersebut, tetapi jejak-jejak pemikiran kritis dan kebijakan-kebijakan strategis dan taktis dapat digali kembali dari karya-karyanya. Semangat mengindonesiakan pemikiran Eropa yang kental dapat menjadi salah satu cirikhas dari Daoed Joesoef.

Yudi Latif, dengan segala hormat sebagai pemikir muda masih membutuhkan jam terang yang lebih tinggi dan experimen dari teori-teorinya sebagai basis dari refleksi. Teori, experimen dan refleksi adalah tiga hal yang berkaitan bila ingin melahirkan pemikiran-pemikiran baru, solusi-solusi taktis. Dalam bahasa sederhananya ketiga proses itu bisa juga disebut analisis, aksi dan refleksi. Berdasarkan urutan proses ini saya mencoba memberikan catatan pinggir pada tulisan Yudi Latif tentang analisis politik yang terbit di halaman pertama Kompas.

Pada tahanan awal tulisan, terpampang jelas analisis situasi politik Indonesia terkini. (Secara sepintas saya kira politik yang dimaksud oleh si penulis adalah politik kekuasaan, sekalipun dalam beberapa penjelasan si penulis mencampuradukkan antara politik kekuasan dan politik kesejahteraan). Kita semua sepakat bahwa suasana perpolitikan Indonesia saat ini masih caruk-maruk, mencoba mencari bentuk idealnya. Semua yang terlibat dalam perebutan kekuasaan, mulai dari calon pimpinan daerah, anggota dewan, tim sukses, tim relawan bahkan massa pemilih merasa sudah memahami dengan baik arti politik yang direduksi pada proses pemilu, terhitung sejak masa kampanye dan sesaat pasca kampanye.

Analisis tentang politik yang dipaparkan oleh Yudi Latif mengunakan pisau iris sosial politik dari negara Eropa, sekedar menyebut nama Marily Oppezzo, Daniel Schawartz dan Eric Weiner, saya kira tak satupun dari mereka ini yang berasal dari salah satu pulau dari Nusantara, sehingga wajar bila basis refleksi teori mereka diambil dari kota-kota yang berada di luar Nusantara. Sebagai sosok yang paling bertangungjawab dalam pembinaan idiologi Pancasila, maka sangat wajar bila nama-nama yang masih atau bahkan sangat asing ditelinga awam itu disandingdudukan dengan pemikir-pemikir besar tanah air. Ini adalah kritikan saya pertama. Semua paparan teori dari luar, seyogyanja dipadankan dengan para pemikir Nusantara, dengan filosofis-filosofis yang sudah ada jauh sebelum sistem demokrasi a la Yunani itu ditempelkan dalam proses bernegara kita (saya sengaja memakai kata ditempelkan, karena memang sejatinya belum menjadi darah dan daging sistem politik kita yang seutuhnya).

Kritikan saya kedua, Yudi Latif mengambil dua contoh negara yang dianggap maju (menurut Yudi Latif) Cina dan Yogyakarta. Dari runtutan cara berpikir saya setuju dengan pemaparan contoh tersebut setelah memberikan beberapa analisis teoritis tentang keberadaan politik saat ini.  Saya kutip kembali tulisan Yudi Latif “ Eric Weiner (2016) menengarai, tida ada korelasi antara era keemasan kenegaraan dan demokrasi. Substansi yang perlu dihadirkan adalah kebebasan kreatif, bukan demokrasi semata. China tidak memiliki demokrasi, tetapi memiliki autokrat tercerahkan yang memberi ruang kreatif bagi warga untuk mengembangkan potensi diri dan memenuhi tugas kewargaan.”  Seandainya Daoed Joesoef masih tegak berdiri di muka bumi ini dan masih kokoh menuangkan pemikirannya, saya sangat ingin mengetahui pendapat beliau dengan catatan dari Yudi Latif ini. Saya punya catatan khusus dan serius tentang Cina sebagai pengambilan contoh, saya tidak paham sama sekali ukuran apa yang disematkan oleh Yudi Latif sehingga Cina diambil sebagai role model negara yang dia anggap ideal sekalipun tidak mengenal sistem demokrasi yang digunakan pada umumnya.

Jika Yudi Latif membaca dengan seksama apa yang ia tuliskan, bahwa Eric Weiner menuliSkan bahwa bukan demokrasi semata, tetapi kebebasan kreatif. Pemakaian gaya bahasa ini mengandaikan bahwa demokrasi saja tidak cukup tetapi juga dibutuhkan nilai lain. Tetapi demokrasi harus dicapai lebih dahulu lalu nilai yang lain ditambahkan. Inilah runtutan berpikir yang disampaikna oleh Eric Weiner. Ini adalah catatan ketiga saya untuk orang yang paling bertanggjawab terhadap pembinaan Idiologi Pancasila. Mengenai Yogyakarta sebagai contoh, saya kira butuh analisis yang jauh lebih tajam lagi karena Yogyakarta itu adalah pusat pemikiran filosofis Nusantara. Penggalian kekayaayaan kultural, filsafat bahkan spritual akan mengantar kita pada kesimpulan lain bahwa demokrasi di tanah air memiliki warna sendiri jauh sebelum demokrasi a la Athena itu digadang-gadang sebagai jalan emas menuju dunia baru. Perlu diingat bahwa Borubudur, Candi Prambanan muncul di zaman keemasan Nusantara. Tetapi di setiap daerah, kita akan menemukan demokrasi, sistem politik tetapi dalam bahasa yang sangat berbeda tetapi dengan spirit yang sama, nilai-nilai yang kurang lebih sama. Biarlah Yudi Latif dan timnya mencoba menggali kedalama nilai-nilai demokratis pada akar budaya Nusantara, sama seperti Soekarno telah melakukannya. Sekedar informasi, kekayaan nilai-nilai demokrasi yang digali oleh Soekaro dan para pendiri republik ini (bedakan dengan Nusantara) berinteraksi dengan masyarakat-masyarkat kultural yang hingga kini masih ada dan terus ada di desa-desa, bukan di kota, apalagi di ibu kota.

Catatan saya yang paling akhir adalah paragaf kesimpulan di mana Yudi mengajak para pembaca untuk menggali ulang kekayaan budaya bagi warga-warga kota. Mengikuti alur pikir tulisan Yudi Latif, solusi akhir yang diberikan tidak lebih seperti doa bersama, doa harapan agar sesuatu terjadi seperti yang diharapkan. Dengan kata lain tidak ada solusinya. Kembali kepada proses ketigaan diatas, analisis, aksi dan refleksi, tulisan Yudi kali ini patah dibagian aksi (contoh real), pengambilan Cina sebagai contoh saya kira tidak tepat sasaran. Sementara Yogyakarta yang bisa dijadikan sebagai basis refleksi tidak digali dengan mendalam. Wajar kalau kesimpulannya menjadi hambar.

Sebagai kesimpulan dari catatan saya, wajar sekali saya memberikan catatan di atas catatan tersebut, dengan kata lain, saya memberikan pemikiran saya tentang demokrasi nusantara. Saya tidak ingin berteori ria, tetapi memilih untuk memberikan contoh real (aksi) bagaimana politik (baca politisi, relawan, tim sukses) mengadopsi spirit kultur masyarakat setempat.  Seorang calon pimpinan daerah di sumatera utara, sangat wajar untuk mengambil hati golongan tertentu dengan menggunakan identitas-identitas masyarakat bersangkutan. Contoh, calon A, dalam spanduk-spanduk pinggir jalan menggunakan pakaian adat daerah tertentu. Bagus! Juga untuk meraih simpatik lebih luas menempatkan marga di belakang namanya, kebetulan calon A tidak berasal dari daerah yang bersangkutan, sehingga tidak memiliki marga. Nah, persis pada saat inilah nilai kultural memegang peran penting dalam sistem demokrasi. Pemberian marga pada orang tertentu memiliki proses kultural yang harus disetujui oleh masyarakat kultural itu. Jika proses klutural itu dilanggar maka ada sebuah isyarat bahwa calon A tersebut tidak bertanggungjawab dalam hal kultural. Pemberian marga memiliki sisi kebanggan, tetapi juga tanggungjawab kultural yang tidak mudah (baca tulisan saya Jokowi, Raja Batak).

Ini adalah contoh kecil bagaiaman demokrasi yang ditempelkan kepada Nusantara ini harus mampu mengadopsi kekakayan kultural masyarakat setempat. Proses pemberian marga itu sendiri adalah tata cara hidup warga di sebuah wilayah ( baca kota). Pemahaman kultural yang mendalam, akan membuat kota sebagai beradap dan bermartabat, seperti yang diharapkan oleh Yudi Latif, pembina Idiologi Pancasila.

Advent Tambun

Inisiator Sinabung Jazz

 

Check Also

OPINI. GUARIOLA: CINTAILAH PEKERJAANMU! (terbit di harian TOPSKOR 27 Maret 2018)

¨Cintai apa yang kamu lakukan, dan lakukan apa yang kamu cintai.¨ Untaian kata-kata indah ini …

Deja un comentario

Tu dirección de correo electrónico no será publicada. Los campos obligatorios están marcados con *

9 + dieciseis =