JAK MANIA DALAM PANGGUNG DUNIA SEPAK POLA

jackmaniaArtikel pendek ini secara khusus saya goreskan sebagai ungkapan kekaguman bagi pendukung setia Persija atau yang lebih dikenal dengan Jak Mania. Semifinal Piala President dan stadion Manahan Solo menjadi titik balik gambaran saya terhadap pendukung setipa tim Macan Jantan ini. Bahkan Maruar Sirait dalam kata sambutannya sebelum pertandingan final melawan Bali United, ketua utama panitia Piala President tersebut mengucapkan selamat kepada Jak Mania dan Bali United. Kata Jak Mania lebih melekat di bawah alam sadarnya daripada Persija.

Sesungguhnya tulisan ini sudah selesai rampung satu hari setelah pertandingan leg 1 melawan PSMS Medan. Aroma kemenangan sudah tercium harum, sehingga partai final di GBK adalah ceremonial formal semata. Itu menurut prediksiku semata setelah menyaksikan pertandingan babak semifinal. Dan benar adanya Persija layak jadi raja bola nusantara dan mengangkat COPA DEL REY, piala rajanya Indonesia (baca, Piala Presiden)

Ketika bicara tentang Jak Mania, kesan yang muncul adalah hologan kaum remaja Jakarta yang tampil kumuh, bergerombol menyetop bus atau naik di atas metro mini, serta teriak sana teriak sini yang tidak pernah jelas. Belum lagi mau amis keringat tak mandi menguap begitu saja bila berdekatan. Saya yakin teman-teman Jak Mania akan membully saya jika hanya membaca paragraf ini saja.

Sebagai kolumnis olahraga dan pernah menyakisakan pertandingan sepakbola baik di Camp Nou dan Santiago Bernabeu, tentu saya punya kriteria sendiri  ketika memberikan penilaian, yang tentu saja sangat pribadi, beyond of the game , segala sesuatu yang berada di luar pertandingan termasuk para fans.

Jak Mania, layak jadi contoh. Ini adalah kata kunci yang muncul dibenak saya usai menyaksikan pertandingan leg pertama semifinal PSMS vs Persija, 10 Februari 2018, pukul 19.30. Malam kala pertandingan ini bergulir kurang bersahabat. Hujan deras yang mengguyur hampir seluruh dataran bumi Solo membuat banyak orang yang enggan keluar rumah. Tetapi Manahan memiliki daya tarik tersendiri bagi Jak Mania. Seluruh sudut Manahan sepertinya dicet dengan warna organe yang bergerak kesana ke mari. Hujan bukan halangan, dukungan bagi tim kesangan mengalahkan tantangan alam sekalipun. Di dalam stadion Mahanan, seluruh kursi terasa berwarna orange, hanya sembagian kecil saja warna hijau khas Ayam Kinantan dari Timur mencoba memerikan warna lain, tetapi tenggelam dalam lautan si Macam Kemayoran. Tidak Manahan, tidak GBK, the jak mania mengubah tembok hitam putih merah biru menjadi oranye. Sulit menemukan tandingan sekelas the Jak Mania, tidak hanya di Indonesia bahkan di level internacional.

Irama gendrang perang khas Jak Mania, tidak berhenti sejak dari awal mereka memasuki tribune, mereka menabuhkan bunyi a la perang Abad Pertengahan, perang face to face. Mungkin mereka beranggapan bahwa bunyi-bunyi drum itu memiliki kekuatan supranatural yang memanggil roh pejuang sepakbola untuk merasuki semangat para jawara-jawara Mancan Ibu kota tersebut. Terbukti, mereka seperti kesetanan menari di atas lapangan perang dengan iringan yel – yel seluruh stadion. Upper cut pertama mengujam tajam dari kaki macan Simic. Kurang dari lima menit, cakarnya sudah merobek gawang Ayam Kinantan. Suara genderang perang semakin bergemuruh seakan akan meminta korban darah lebih banyak lagi, seakan-akan membuat macan-macan orange itu haus darah kemenangan. Benarlah, mereka mampu menancapkan cakarnya di gawang lawan sebanyak empat kali. Hidup sang Macan!

Tetapi seperti saya sebutkan di atas, kerumuman macan-macan kecil, yang adalah fans memperlihatkan tontonan yang tak kalah menariknya. Maaf, di Camp Nou maupun di Bernabeu tidak akan Anda temukan sorak-sorai penonton a la Jak Mania. Saya tidak senang memuji mencari muka, tetapi kenyataannya begitu. Tidak sesekali dari tribune wartawan terdengar tepuk tangan, bukan karena permainan cepat Perjisa, tetapi sahut menyahut yel-yel dari Jak Mania yang sepertinya sudah diatur dengan sedemikian rupa.  In a simple word, indah!

Bagi mereka menonton bola, bukan berarti duduk tenang a la stadion liga Inggris, lalu berberiak panjang saat gol, atau mengucapkan ‘u’ panjang saat permainan tidak layak muncul di lapangan. Jak mania adalah pemain ketiga belas dalam arti sesungguhnya. Mereka memainkan peran sebagai pemain di luar lapangan. Menyanyi, menabuh genderang dengan irama teratur adalah bagian dari permainan di luar lapangan yang tak kalah menariknya bagi penonton non fans seperti saya. Saya memang bukan ahli seni tarik suara atau musik, tetapi irama gerakan tangan ibarat gelombang teratur berirama, mestinya diberi nama, alias digolongkan dalam sebuah seni, tapi entahlah namanya. Sesuatu yang indah, adalah indah, entah dari dan di mana dan oleh siapa dilakukan. La belleza es la belleza, punto. Kecantikan adalah kecantikan, titik.

Berharap (ditulis seminggu sebulum pertandingan sehingga saya pakai kata ‘berharap’) seni the Jak Mania ini bisa masuk di GBK dan mengoranyekan stadion kebanggan seluruh bangsa ini dengan gaya gerak musik yel-yel mereka. Saatnya semua mata melirik sisi lain dari sebuah pertandingan. Beyond the game itu kali ini milik the Jak Mania. Seluruh pencinta, penggerak sepakbola selayaknya melihat irama-aroma gaya the Jak Mania ini sebagai kekayaan sepakbola Nusantara Baru. Dengan sedikit sentuhan dari kalangan seniman, saya yakin salah satu yang akan ditunggu publik pencinta bola adalah tarian indah a la Jak Mania. Salut!!!!

Advent Tambun SINABUNG JAZZ.

angelkutuskutus

Check Also

guardiola

OPINI. GUARIOLA: CINTAILAH PEKERJAANMU! (terbit di harian TOPSKOR 27 Maret 2018)

¨Cintai apa yang kamu lakukan, dan lakukan apa yang kamu cintai.¨ Untaian kata-kata indah ini …

Deja un comentario

Tu dirección de correo electrónico no será publicada. Los campos obligatorios están marcados con *

14 − 4 =