Opini: MOHAMED SALAH yang SOLEH

Salah satu yang menjadi daya tarik sajian berita olahraga adalah goresan grafis yang artistik dan dinamis, khas spirit olahraga. Halaman depan selalu memanjakan mata dengan dengan design grafis yang mampu melahirkan keingintahuan pembaca. Bagi news sport lovers sudah terbiasa dengan sosok pemain yang dilingkari dengan angka-angka, mulai dari jumlah gol, assists, menit tanding, jumlah pertandingan dan lain-lain. Semakin banyak angka yang terpampang, terlihat semakin profesional dan bukti bahwa koran yang bersangkutan memiliki badan litbag yang aktif. Beberapa hari yang lalu halaman-halaman berita olahraga memperlihatkan sosok fenomenal the rising star di Premier League Mohamed Salah.

Sebelum membahas Mohamed Salah, izinkan saya mengunakan inisial seperti berikut ini Moh. Salah.  Saya  dengan sengaja menuliskan seperti ini hanya untuk menarik perhatian pembaca bahwa dalam nama pemain yang digadang-gadang akan tampil bersama Real Madrid ini terdapat kata yang aneh bagi publik pembaca Indonesia. Salah.

Sebagai catatan tambahan bahwa nama pemain bola kerap menjadi inspirasi bagi orang tua untuk memberikan nama pada putranya yang baru saja lahir. Selama ini, saya belum pernah mendengar nama putra yang lahir di nusantara ini diberi nama Salah. Tetapi Soleh tentu banyak sekali, apalagi Soleha.

Kembali kepada paragraf awal tentang angka-angka yang menghiasi design grafis seorang pemain. Mungkin terinspirasi dari design grafis ini SOLOPOS juga membuat hal yang sama, dikelilingi dengan angka-angka, tetapi sosok yang dipaparkan bukan seorang pemain tetapi gambar siluet seokor buaya dan hiu yang sedang bertarung. Lambang kota Surabaya. Angka-angka yang dipaparkan adalah data dari jumlah korban bom bunuh diri yang terjadi secara serentak di beberapa tempat di kota Surabaya, di tiga rumah ibadat dan juga markas kepolisian kota tersebut. Saya tidak ingin memaparkan keperihan dan kepedihan itu disini dalam bentuk data-data korban. Ruang makan kita dipenuhi oleh berita korban melalui televisi, pun demikian dengan smartphone.

Yang pasti ada sesuatu yang salah dalam cara kita memahami hidup bersama. Saya tidak tahu persis dimana letak kesalahan itu, tetapi pasti ada yang salah. Sudah menjadi tugas bersama kita mencari dimana letak akar permasalahan sehingga muncul tindakan-tindakan yang salah tersebut. Membunuh orang lain, apalagi dengan menggunakan ayat tertentu dari sebuah Kitab Suci adalah tindakan yang salah, atau dalam bahasa umumnya dosa. Jika kita menganggap itu baik-baik saja, maka ada yang salah dalam cara kita berada. Jika ada yang mendukung tindakan itu baik secara terbuka di media sosial ataupun dalam internal batinya, maka kita harus berani mencari letak kesalahan cara berpikir kita. Mengapa tindakan salah itu tetap dibenarkan? Tetapi satu hal yang perlu kita pahami, tindakan salah itu (baca bom bunuh diri) bukan sudden gol, terjadi begitu saja, tetapi sebuah tindakan yang sudah direncanakan, dilatih, divisualisasikan, dibayang-bayangkan dan dicita-citakan. Bom bunuh diri ibarat gol terindah dalam pertandingan final hidup mereka (baca teroris).

Sangat berbanding terbalik tentu saja dengan 40 gol yang dibuat oleh Moh. Salah yang melahirkan tepuk tangan meriah dan tropi the best player di Premier League 2018 sengan SEPATU EMAS di tangannya. Ia telah memecahkan new reocrd top scorrer mengalahkan masa jaya Cristiano Ronaldo selama merumput di Inggris. Setiap gol dari kaki Moh. Salah adalah airmata haru ratusan orang atau bahkan ribuan orang muda Mesir yang sudah dibantu oleh pemain yang memilih hidup sederhana ini. Dengan gaji 1.750.000.000 (saya sengaja menuliskan dalam angka agar tervisualisasi dengan lebih baik) Moh. Salah sudah melakukan puluhan tindakan soleh, membantu orang yang membutuhkan.

Moh. Salah telah mendirikan yayasan Salah Charity Foundation dan menyisihkan 2.000 pounsterling setiap bulan dari gajinya. Ia juga telah menghabiskan satu juta pounsterling untuk membangun Rumah Sakit Universitas Tanta dengan peralatan modern. Dan anehnya ia tidak ingin kegiatan amal ini dipublikasikan. Mimpi berikutnya adalah membangun jalur kerta api dari desanya ke kota terdekat Bosyoun.

Bahkan jika Anda sedikit kepo tentang M. Salah maka akan Anda temukan pengakuan seseorang di youtube yang memeluk Islam setelah mengikuti sepak gol (untuk tidak mengatakan terjang) Moh. Salah yang dianggap sebagai sosok yang layak dipuji dan ditiru.

Wajar bila nama pemain yang baru berusia 26 tahun pada Juni nanti, lebih sering muncul di media massa daripada Firaun, penguasa pada zaman Mesir Kuno. Dengan kocekan cantik dan suntikan halus berbisa ke mulut gawang, Moh. Salah kini disejajarkan dengan dewa bola saat ini Messi dan Cristiano Ronaldo. Tetapi saya yakin Moh. Salah memiliki fans setia dan bukan tidak mungkin suatu saat nanti sosok yang kerap lupa mencukur janggutnya ini akan diundang ke GBK dan solat bersama di Masjid Istiqlal, mesjid terbesar di Asia Tenggara, mesjid yang dibangun dengan penuh simbol-simbol keagamaan dan rasa cinta pada tanah air.

Moh. Salah telah membuktikan bahwa sepak bola mampu berbicara lebih kuat daripada sekedar mencetak rekor gol. Dia tidak semata-mata menjadi mercusuar arah serangan ke barisan pertahanan lawan, tetapi juga icon baru dalam dunia olahraga. Tidak mudah melahirkan sosok muda berbakat sekalipun berhati soleh. Mohamed Salah yang soleh. Harapan itu telah menjadi darah dan daging dalam tubuh pemain Mesir itu. Dia tidak semata-mata menjadi kebanggan bagi warga Mesir, juga bukan hanya milik fans Liverpool, Mohamed Salah yang soleh adalah miliki kemanusiaan yang selalu rindu pada sosok muda yang menyebarkan aura perdamaian.

Profile picture Mohamed Salah yang muncul di media massa baik cetak maupun on line tampil dengan tangan terbuka lebar sembari berlari ia seakan-akan ingin membagikan kebahagiaan gol tersebut. Biarlah profile picture itu menjadi memory indah bagi anak-anak kita, generasi muda kita, bahwa Mohamed Salah adalah contoh kesalehan hidup.

Design grafis kota Surabaya  dengan data angka korban bom bunuh diri atas nama agama tersebut layak menjadi refleksi berbangsa dan bernegara, mengapa di bumi pertiwi yang bineka lahir tindakan-tindakan super salah? Atas nama kebenaran sempit mereka terjebak dalam kesalahan universal, kesalahan pada kemanusiaan.

Dalam haru biru kesedihan berbangsa dan bernegara karena bom bunuh diri di Surabaya, dunia olahraga selalu memberikan secercah harapan. Sekalipun beliau bukan warganegara Indonesia, tetapi kesolehannya adalah milik kita semua. Nama bisa Salah, tetapi tindakannya super soleh.

 

Check Also

Advent Tambun : Dari Kota Solo ke Kantin Diplomasi

(terbit di SOLO POST, 06.02.2020) Kamis, 11 Nopember 2019, saya tiba lebih cepat di Kantin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − 5 =