Wawancara Hermensen Ballo “Kupang, the City of Sport” (1)

Adalah sebuah berkah bisa berada disamping seorang legenda. Hermansen Ballo. Om Her, begitu ia dipanggil akrab oleh penduduk kota Kupang adalah sosok icon tinju nasional. Kedua tangannya telah bekerja sedemikian banyak untuk mengharumkan bendera merah putih di kancah internasional . Usia yang sudah menjelang setengah abad tidak membuatnya terlihat tua. Sebaliknya kekuatan tangan, kelincahan kaki tetap terlihat saat memberikan arahan kepada para petinju muda Indonesia. Pertama kali bertemu, dengan tenang ayah dua putra ini meminta saya untu merekam aksinya melakukan push up, empat puluh lima kali. Jumlah yang tidak mudah bagi siapapun pada usia tersebut. Latihan fisik adalah sarapan, makan siang dan santapan malam pelatih timnas tersebut. Tetapi latihan yang paling besar dalam hidupnya adalah bangun pagi dan memulai semua aktivitas hariannya dengan berdoa dan membaca Kitab Suci. Baginya kekuatan terbesar sonde (bukan) kecepatan dan kekuatan kedua tangannya, tetapi hati yang lembut dalam balutan keyakinan akan karya Tuhan Yesus dalam hidupnya. Satu dengan satu pertanyaan dia jawab dengan penuh keyakinan, layaknya melancarkan sebuah jab atau counter attacks.

Apakah yang muncul di benak Anda begitu mendengar tinju?

Tantangan. Tinju adalah olahraga keras, tapi penuh dengan seni, boxing is an art. Anda harus bertahan dengan baik, lalu melakukan sebuah gerakan yang cepat untuk memukul lawan Anda. Bertinju adalah menari dngan tantangan itu sendiri. Mereka yang takut akan tantangan, tidak layak jadi petinju, karena dari satu ronde ke ronde yang lain akan muncul tantangan baru, dari satu ring ke ring yang lain, akan muncul lawan yang sama sekali memiliki gaya berbeda. Satu-satunya cara untuk tampil sebagai pemenang adalah latihan dan latihan, tidak ada jalan lain.

Apa arti tinju dalam hidup Anda?

Tinju telah menempa saya seperti sekarang ini. Tinju telah menjadikan saya sebagai sosok yang berani, keras, tegas tetapi pada saat yang bersamaan menjadi orang yang lembut dan jujur. Tinju membentuk saya menjadi sosok yang selalu sigap dengan masalah yang ada dalam kehidupan, saya harus hadapi dengan daya pikir yang cepat. Tinju telah membentuk saya sebagai sosok yang lebih disiplin dalam banyak hal. Tinju membentuk saya menjadi sosok yang rendah hati karena saya tidak tahu siapa yang akan menjadi lawan saya di atas ring.

Apa yang membuat Anda mencintai tinju?

Ehem…tinju telah mencintai saya lebih dahlu. Dulu, waktu saya masih kecil, saya adalah petarung jaLanan. Saya gembar berkelai. Bakat saya tersalur berkat tinju.

Apakah keluarga Anda setuju mengambil karir di dunia tinju?

Awalnya mereka tidak setuju, tetapi lama kelamaan, mereka malah menjadi pendorong utama dalam karir saya.

Siapakah orang yang paling memberikan sumbangsih dalam karir tinju Anda?

Kakak saya no Yonas Ballo. Saya adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara.

 Prestasi paling membangkan dalam karir seorang Hermensen Ballo?

Saya org Pertama dan sampai saat ini belum ada yang mampu meraih medaLi emas di King’s Cup (PiaLa Raja Thailand). Saya mampu meraih emas tahun 1995 dalam keadaan yang ungguh-sungguh luar biasa. Dari awal sampai akhir Pertandingan saya mengalami diare, tapi saya Justru mampu meraih emas. Bagi saya itu adalah berkat dari Tuhan Jesus. Sungguh dahsyat! (bersambung…)

.

.

.

the interview sponsored by Kopi Karo. 

Check Also

El espíritu de Gamelan viaja a Santiago, Chile

Comenzamos el 2020 reflexionando sobre nuestra última actividad en el año 2019. Nos sentimos honrados …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + 6 =