BALI, YOGYAKARTA, IBU KOTA NUSANTARA

Pertanyaan refleksi yang sederhana.
Mengapa Bali dan Yogykarta menjadi magnet turis Indonesia? Apakah yang dimiliki oleh kedua icon Indonesia tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kiranya tidak perlu sebuah studi khusus atau serius. Cukup dengan jujur pada diri kita sebagai warga negara tanpa banyak penjelasan teoritis, jawabannya akan terungkap.

Bali adalah pulau yang masih menghidupi ketuhanan dalam bentuk agama Hindu. Kehidupan sehari-hari masyarakat Bali identik dengan ritual agama. Sebaran kuil, tempat menghaturkan persembahan kepada Yang Maha Kuasa tersebar disetiap sudut. Tuhan merajai hidup mereka dalam artian yang sangat real.

Damai. Siapapun yang menginjakkan kaki ke Bali akan merasakan suasana itu. Alam, gunung dan pantai adalah bonus tambahan dari realitas religiositas tersebut. Bali menghidupi Pancasila dengan membiarkan religiositas menjadi sumber inpirasi kehidupan bermasyarakatnya. Seperti kita ketahui, sila pertama adalah sumber inspirasi bagi empat sila yang lainnya. Menempatkan sila ketuhanan pada urutan pertama memperlihatkan bahwa keyakinan pada Tuhan Yang Mahaesa adalah sumber utama kebijaksanaan kehidupan masyarakat. Sejatinya Indonesia bertahan hingga saat ini karena kemampuannya berevolusi dalam sila pertama tersebut. Nilai kuturis religius adalah bangun dasar berbangsa kita, dan hal itu tercermin dengan sangat jelas di Bali. Tata cara kehidupan bermasyarakatnya, seni, pakaian bahkan bangunan pun merupakan hasil refleksi religiositas tersebut.

Apa yang akan terjadi bila keyakinan itu dicabut dari akar kehidupan masyarakat Bali? Daya tarik manget itu akan hilang dengan sendirinya. Bahkan daya topang kehidupan bermasyarakatnya akan runtuh. Tetapi hal itu tidak akan terjadi. Bali telah melalui badai zaman dan mampu melaluinya. Tidak salah bila seorang turis Eropa pernah berkata ‘Saya menemukan apa yang saya cari di sini. Kedamaian.” Bali telah menjadi milik dunia.

Dari Bali kita melancong ke Yogyakarta. Apakah magnet Yogyakarta sehingga menjadi daya tarik turis? Jawabanya sangat sederhana Borobudur dan Prambanan. Tanpa dua candi ini Yogyakarta tidak memiliki magnet utama. Kedua candi tersebut adalah hadiah terindah dari religiositas bangsa Indonesia pada abad-abad dahulu. Kedua candi ini adalah cermin trwowongan yang seharusnya mampu membawa kita untuk melihat dan menemukan dasar utama berbangsa dan bernegara Indonesia. Bung Karno dengan lantang mengumandangkan bahwa ia telah menggali Pancasila dari dasar kehidupan nusantara dan memberikannya kepada seluruh rakyat Indonesia. Sejatinya Pancasila itu adalah sesuatu yang hidup dan tumbuh dalam masyakarat Indonesia, hanya saja namanya berbeda satu sama lain. Di setiap daerah suku budaya Indoensia mengenal panca dasar kehidupan tersebut, tetapi dalam kata dan diksi yang berbeda.

Kita harus akui bahwa dengan mendalami candi Borobudur dan Prambanan sebagai cermin dan lorong perjalanan Indonesia, kita akan sampai pada kesimpulan Pancasila. Tetapi tanpa harus bercermin kepada dua bangunan ikonik ini, kita pun akan menemukannya dalam candi atau rumah ibadah kepercayaan masyarakat Indonesia.

Seorang sahabat pernah berkata, “Galilah, maka kamu akan menemukan pancasila itu dalam budaya lokalmu!”

Sekali lagi fondasi bernegara dan berbangsa Indonesia ini terletak pada sila pertama. Pada titik ini cara kita bernegara sudah sangat jelas dan tegas. Tanpa sila pertama, bangsa dengan jumlah penduduknya 270 juta jiwa ini akan mengalami turbulensi stunami masa depan. Kekuatan massa berbasiskan agama adalah penopang kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini. Jika fondasi itu goyang, maka semua bangunan utuh yang berada di atasnya akan turut retak dan bukan tidak mungkin runtuh. Sangatlah wajar menasehati para pemimpin negara ini, baik president, gubernur, walikota dan semua yang menjadi pemimpin publik untuk mencari nasehat rohani dalam menjalankan tugasnya. Pemimpin yang tidak berketuhanan akan membawa masyarakatnya ke kancah medan perang keserakahan. Invasi militer Rusia ke Ukrania adalah contoh yang sangat jelas, pemimpin yang tak berketuhanan yang mengabaikan nasehat rohani para petinggi agamanya. Antara raja alim dan lalim hanya dipishakan oleh satu huruf saja.

Lantas apakah yang ingin diperlihatkan oleh Nusantara, ibu kota negara baru Indonesia? Jika kita runut premis-premis awal di atas, maka menempatkan Istana Kepresidenan maha karya Nyoman Nuarta sebagai ikon baru Nusantara adalah salah kaprah. Indonesia adalah bangsa yang diam-diam ubi berisi atau semakin berisi semakin runduk padi menguning.

Tidak salah untuk mengingatkan para pemangku dan pengambil keputusan bangsa ini untuk sekali lagi bercerminlah pada Bali dan kedua candi di Yogyakarta.

Dear presiden, yang pertama harus Anda bangun adalah sesuatu yang meninggatkan semua rakyat bahwa fondasi kehidupan bernegara dan berbangsa kita adalah sila pertama. Istana megah Anda cocok untuk mencerminkan sila ketiga.

Advent Kopi Karo

Minggu, 31 Juli 2022

Check Also

BALI, YOGYAKARTA Y LA NUEVA CAPITAL DE NUSANTARA

Una sencilla pregunta de reflexión. ¿Por qué Bali y Yogyakarta se convirtien en imanes turísticos …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *