GADIS BUNGA MATAHARI (KEDAI KOPI CINCIN)

Seluruh kota tahu mengapa kedai itu memiliki nama Kedai Kopi Cincin. Huruf ‘o’ pada kata kopi diganti dengan lukisan biji kopi dengan garis tengah simestris seperti garis pemisah yin yan. Pada setiap kopi arabika yang sudah disangrai akan ditemukan garis pemisah itu, white center yang merupakan salah satu ciri fisik yang membedakan biji roasted kopi arabika dan robusta.
Awalnya kedai kopi tersebut bernama Kedai Ngopi Bareng dengan tagline # ngopi bareng kamu aja. Sekalipun awalnya si pemilik kopi menargetkan pasar kaum muda, tetapi pada akhirnya kedai kopi itu didatangi semua golongan dan usia. Kedai Ngopi Bareng menjadi satu-satu kedai kopi yang menyediakan lebih dari 20 jenis kopi arabika, robusta, liberika dan ekcelsa, mulai dari Gayo, Wamena, Wae Rebo, Karo, Mandailing, Toraja, Dampit, Kelir, Lawu dan masih banyak jenis kopi lainnya. Setiap bulan kedai Ngopi Bareng menyedikan jenis kopi baru. Dan tidak jarang kedai Ngopi Bareng mempromisikan house blend coffee, campuran dari beberapa kopi nusantara tersebut.
Suasana kekeluargaan dan opened bar menjadi ciri khas kedai Ngopi Bareng yang mulai pukul 11 pagi hingga last order pukul 11 malam. Satu dua pengunjung malah mengiling sendiri roasted bean secara manual. Lalu diserahkan kepada barista agar diseduh dengan cara yang diminta oleh pengunjung. Tetapi ada juga penikmat kopi yang menyeduh sendiri kopi yang sudah ia giling. Pemandangan yang tidak kalah menariknya, ketika seorang teman melayani teman undanganya, ia bertindak sebagai barista dadakan. Tentu adegan berikutnya adalah foto-foto bahkan video singkat adegan menjadi barista dadakan itu tersebar di jagad media sosial. Kedai Ngopi Breng sukses menjadikan kopi sebagai ikon kota kecil di bawah kaki gunung Bromo.
Dinding kopi Ngopi Bareng bercerita banyak. Tak ada sudut yang tidak memberikan warna sendiri sejarah kopi nusantara. Sebuah poster besar tergantung di sudut kiri ruangan selalu menjadi daya tarik pengunjung. Poster itu adalah gambar wajah siluet Max Havelaar. Begitu tertulis di bagian bawah poster tersebut. Dan foto-foto berukuran 40 x 40 cm bertebaran disekitarnya, foto yang bercerita tentang kisah sejarah kebun kopi nusantara. Foto-foto hitam putih itu memperlihatkan wanita-wanita pribumi yang sedang memetik kopi atau memisahkan buah-buah kopi yang baru dipetik.
Dinding sebelah kanan dihiasi foto-foto penuh warna warni. Semua bercerita tentang kopi zaman foto warna, merahnya kopi dan hijaunya dedauan menjadi ciri utama setiap foto yang berukuran 80×80 cm. Kedai Ngopi Bareng ingin bercerita kepada para pengunjung perjuangan kopi abad lalu dan kenikmatan kopi abad kini. Tetapi ikon kedai itu tidak terletak pada salah satu dindingnya, tetapi pada sebuah stopless kaca yang berisi cincin bemata kopi.
Dua tahun lalu kedai Ngopi Bareng resmi menganti namannya menjadi Kedai Kopi Cincin. Begini kisahnya.
Hari Minggu tanggal 29 Februari 2016. Seperti biasa, kedai Ngopi Bareng selalu ramai pengunjung pada hari minggu sore menjelang malam. Hari itu barista utama adalah Safik Mahmud, yang kerap dipanggil Fikfik oleh sesama barista dan pengunjung tetap kedai Ngopi Bareng. Hampir semua meja terisi pengunjung. Tiga dara muda duduk bercerita sembari meneguk kopi singel origine arabika dari Jember dengan sentuhan V60. Mereka asik bercerita tentang kampus dan persiapan akhir semesteran. Di meja sebelahnya dua orang bapak, kira-kira berusia 50 tahunan menikmati kopi tubruk blend premium kopi arabika Toraja dan robusta Pagaralam. Tak jauh dari kedua bapak tersebut tiga remaja menikmati coffee affogato. Satu keluarga, ayah, ibu dan dua anak yang masih kecil duduk bersama menikmati nasi goreng khas kedai Npogi Bareng dan juice markisah dicampur terong beland. Dalam hitungan per satu jam biasanya akan ada pengunjung baru yang datang dan pengujung lama meninggalkan kedai itu. Arus pengunjung keluar masuk adalah cerita sukses sebuah kedai kopi yang meliburkan karyawannya pada hari Senin dan hari libur lainnya kecuali hari minggu. Omzet hari minggu bisa tiga kali dari hari biasa.
Senyum ramah adalah aroma khas yang ditularkan oleh Fikfik dan kedua temannya kepada setiap pengunjung yang datang dan pergi meninggalkan kedai Ngopi Bareng. Sesekali pengunjung baru memintanya untuk selfie.
Bahkan Fikfik seperti barista lain sudah memiliki pelanggan tetap yang datang secara teratur dan memesan pilihan yang sama. Sapaan ramah, kualitas kopi, suasana kekeluargaan yang tercipta di kedai Ngopi Bareng kerap menjadi koment pengunjung yang muncul di IG Ngopi Bareng.
Hari itu hujan rintik-rintik di luar. Udara lebih dingin dari biasanya. Fikfik memutar lagu Enya Sail Away dengan volume rendah. Fikfik menatap lurus kedepan saat seorang gadis menggenakan dress sebatas lutut berwarna putih dengan motif bunga matahari besar di bagian dadanya, membawa tas sandang mini anyaman rotan kombinasi dengan tali kulit berwarna coklat muda. Sepatu wedges bermotif kain Flores membuat gadis berambut sebahu itu terlihat elegan. Bunga matahari besar di baju si gadis menjadi titik magnet visual bagi Fikfik. Hingga akhirnya matanya beralih pada magnet lain dari si gadis ketika ia meletakkan tas anyaman rotan dengan tangan kanannya. Fikfik melihat sebuah tato kecil di bawah tangan kanannya, tato kopi dengan garis tengah yang simetris. Pencinta kopi, pikir Fikfik menterjemahkan tato tersebut.
“Malam, Mbak!” sapa Fikfik setelah melakukan screening visual pada pelanggan barunya tersebut, pintar, memiliki nilai seni dan memiliki karakter.
“Masih sore, lho, Mas!” sahutnya dengan senyum tipis dibibir dan sejurus merapikan posisi duduknya di depan bar setinggi satu meter itu. Bar yang tidak membatasi jarak antara pelanggan dan barista. Bar itu lebih cocok disebut meja panjang. Semua peralatan kopi, mulai dari V60, Frenchpress, timbangan digital, mesin kopi espresso buatan Italia, kompor listrik dan beberapa topless kecil tempat roasted bean. Semua ada dalam jangkauan si pengunjung.
Gadis bunga matahari itu tidak tertarik dengan pernak-pernik kopi yang berada dalam jangkaun tangannya, ia malah melepaskan pandanganya pada lemari kopi di belakang Fikfik. Lemari gantung itu dihiasi dengan rapi oleh dua puluh empat stoplles, berderat enam horizontal dan empat vertikal. Setiap stoplles diberi identitas kopi dengan huruf besar warna hitam sehingga bisa dibaca oleh pengunjung dari jarak dua tiga meter.
“Boleh yang itu, Mas?”tunjuk gadis berbaju bunga matahari ke arah sebuah topless yang kopi roasted bean tinggal sekali seduh, mungkin hanya 15 atau 17 gram saja. Dengan santai Fikfik mengambil topless dengan tulisan J..M.. Raja. Dua huruf pada kata pertama sudah terhapus.
“Apa artinya je em ini, Mas? tanya gadis berbaju bunga matahari.
“Ups…sorry, Mbak. Saya kurang tahu. Saya lupa-lupa ingat, kalau tidak salah jamu atau juma. Maaf saya lupa persisnya. Tapi yang pasti kopi dari Sumatera. Kopi ini dibawa oleh seorang pelanggan yang baru saja melakukan tugas penelitian vulkanologi di Sumatera. Biasa, koq Mbak, pelanggan menghadiahi kami kopi.”
“Boleh diseduh dengan syhfon coffee maker?” pintanya sambil menatap syhfon yang rak khusus tergantung di dingin belakang bar. Sejak berdiri kedai Ngopi Bareng belum pernah menggunakan syhfon coffee maker itu. Barang unik itu hanya sebagai pajangan penghias ruangan. Fikfik pernah menggunakannya untuk merasakan hasil seduhan yang memanfaatkan uap ari mendidih tersebut. Secara visual tentu menarik karena bisa dilihat bagaimana api memanaskan air di dalam tabung kaca kedap udara, lalu uap air wadah kedua. Uap air itu akan bercampur dengan bubuk kopi dan akhirnya mengalir kembali ke bawah meninggalkan ampas kopi di bagian atas. Sebuah proses yang menarik secara visual.
Pelanggan adalah raja. Permintaan seorang pengunjung adalah perintah yang tidak bisa ditolak. Fikfik menyiapkan syhfon tersebut di atas meja bar, merapikan posisi timbangan digital. Menetralkannya pada angka nol. Menempatkan gelas stainless di atas timbangan digital tersebut. Lalu menuangkan seluruh kopi J…M… Raja ke dalam gelas stainless tersebut. Tertera angka digital 16. Sejurus kopi medium rosted tersebut terdengar berdesak-desakan di dalam mesin grinder. Bunyi gemercik halus hanya beberapa detik saja, dan kopi tersebut sudah berubah menjadi bubuk kopi ukuran halus.
“Enambelas gram, Mbak.”
“Ok.”
“Mau berapa takaran airnya?” tanya Fikfik yang sembari menyiapkan bahan bakar untuk syhfon.
“Satu banding sepuluh saja, Mas.”
Liturgi pengolahan kopi dengan syhfon di tangan Fikfik berjalan lancar. Dengan teliti ia melihat ukuran air yang dimasukkan ke sifon, menyalakan api dan menunggu proses penguapan akibat panas terjadi. Dalam hitungan menit aroma kopi J…M…RAJA meyebar di sekeliling ruangan. Gadis bunga matahari menatap wajah Fikfik sembari memberikan senyum tipis setelah menghirup aromanya.
Sejurus kemudian gelas kecil dengan kopi J…M.. RAJA sudah berada dalam genggaman gadis bunga matahari tersebut. Ia mengendus bibir gelas mencoba merasakan lebih dekat aromnya. Ia menarik dalam nafasnya melalui hidung dan menutup matanya. Sekali, dua kali hingga tiga kali. Menurunkan kembali gelas kopi dan menunggu beberapa saat agar temperaturnya cocok untuk diteguk.
Fikfik dengan sabar menunggu reaksi si gadis bunga matahari yang akhirnya melanjutkan proses utama menikmati kopi, seruput, meneguk dengan cepat dan membanjiri seluruh permukaan cita rasa lidah. Seruput lagi dan seruput lagi. Fikfik dengan sabar menunggu reaksi si gadis bunga matahari yang kini memejamkan matanya lebih dalam seperti merasakan sesuatu di dalam mulutnya. Fikfik diam tak bergerak. Kejadian selanjutnya membuat Fikfik lupa bahwa ia sedang berdiri di dalam kedai Ngopi Bareng.
Aroma kopi arabika menyebar di dalam kedai. Semua pengujung berhenti tak kala aroma itu menyentuh saraf indra penciuman mereka. Aroma fruity, spicy, flour, choclaty, caramel, earty bercampur bersama malam itu. Tanpa diberi komando semua kepala tertuju pada gadis bunga matahari. Tetapi bukan itu yang membuat ruangan kedai Ngopi Bareng berhenti berdetak. Semua mata menyaksikan sesuatu yang aneh di luar nalar manusia.
Gadis bunga matahari secara perlahan menguap. Badannya secara perlahan lebur dalam asap halus aroma kopi. Perlahan tapi pasti seluruh badan fisiknya akhirnya lenyap. Hilang. Gadis bunga matahari itu hilang tanpa bekas. Bahkan tas anyaman rotan beserta tali kulitnya juga hilang lenyap.
Hanya sebuah cincin emas tertinggal di atas meja persis dihadapan Fikfik. Cincin emas bermata biji kopi dengan garis putih di tengahnya.
Ruangan itu sunyi senyap beberapa saat, hanya lagu Sail Away dengan suara rendah mengiringgi kejadian aneh itu. Aroma itu tiba-tiba lenyap ketika pintu Ngopi Bareng dibuka oleh seorang ibu setengah baya tetapi berat badanya beradu dengan lebar pintu. Aroma itu lenyap. Semua pengunjung saling menatap dan berbicara melalui tatapan satu sama lain. Semua yang ada di ruangan itu menjadi saksi mata tetapi tidak ada yang berkata-kata.
Hari berikutnya kedai Ngopi Bareng mengubah namanya menjadi Kedai Kopi Cincin. Cincin peninggalan gadis bunga matahari itu dimasukkan ke dalam topless J..M… RAJA yang kini diletakkan di rak paling tengah. Siapa pun yang datang ke Kedai Kopi Cincin akan melihat topless kaca tersebut dengan cicin di dalamnya.
Kedai Kopi Cincin hanya mengidangkan kopi J…M…RAJA setiap tanggal 29 Februari dengan alat yang sama saat gadis bunga matahari menguap bersama aroma kopi.
Tangerang 14/vi/2018

Check Also

Aprender INDONESIO 1 SALUDOS (salam)

Rafa Hai [jai] Hola Persona Hai [jai] Hola Rafa Apa kabar? [apa kabar] ¿Cómo estás? …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *