ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Bapak

Merah merona buah kopi kini berganti dengan taburan bintang di atas langit desa Juma Raja. Liturgi petik kopi, giling kopi, jemur kopi sudah berakhir dengan datangnya bidadari malam. Atejadi tenggelam dalam buku barunya The History of Coffee pemberian Dr. Thelma Gomez saat konferensi kopi di Bali awal tahun ini. Buku putih bertuliskan huruf hitam itu telah berubah menjadi lembaran warna-warni akibat ulah stabilo yang ditambahkan Atejadi pada setiap kalimat yang menjadi pesan kunci. Sembari membalik satu demi satu lembaran buku setebal 321 halaman tersebut, sayup-sayup terdengar dari rumah tetangga suara radio RBK, radio kesayangan masyarakat Karo, tembang kenangan sedang mengudara. Piso Surit, terdilo-dilo lalap la jumpa. [1]

Lagu tembang kenangan ini menghentikan tangan Atejadi yang hendak menghoreskan stabilo -nya pada halaman 217 The History of Coffee. Ia teringat sebuah artikel pendek yang dimuat koran lokal tentang almarhum Djaga Depari, komposer lagu tersebut. Dewa musik Karo itu ternyata tidak pernah melewati pendidikan formal musik, ia belajar secara otodidak dan mengikuti naluri seninya. Patungnya dengan posisi bermain biola menjadi salah satu ikon di kota Medan. Tetapi bukan itu yang benar-benar membuat Atejadi terkagum-kagum pada Djaga Depari. Lagu-lagu beliau tercipta sebagai bentuk dukungan kepada Jendral Djamin Ginting, pejuang dan pahlawan nasional Karo. Musik tidak semata-mata soal keindahan audio, tetapi alat dan sarana untuk membawa kita kepada nilai yang lebih besar. Djaga Depari memanfaatkan musik sebagai bagian dari perjuangan.

Tiba-tiba lagu Piso Surit digantikan oleh ring tone dari lagu Ngarep Gestung Api Bas Lau[2]. Nama Diandra The Beauty muncul pada layar Sambung Galaxi a3. Senyum kecil terlintas di bibir Atejadi mendapat sapan malam dari sahabatnya sesama jaket kuning di Universitas Indonesia. Tangankanannya mengambil si smart phone, sementara tangan kirinya menutup The Tistory of Coffee.

“Hai, gadis pemetik kopi,” sapa Diadra dengan tawa kecil yang renyah.

“Hai, the beauty….. Lagi di cafe mana, Di?” Tanya Atejadi yang kini sudah terbaring manja di peraduan kasur empuk dibalut selimut tebal untuk melawan dinginnya udara malam Taneh Karo.

“Bulan depan aku ke Medan lho. Ada pelatihan di Rumah Kreatif BUMN. Aku diminta untuk memberikan seminar kecil tentang local values dalam produk UMKM. “

“Wow…keren banget tuh,”puji Atejadi.

“Makanya aku telefon gadis pemetik kopi. Aku kan tidak tahu sama sekali local values di Sumatera Utara. Lagipula setelah aku tanya, ternyata pesertanya datang dari berbagai suku. Ribet kan, bro[3]!”

“Kalau aku sih melihatnya simpel, Di. Seandainya kamu adalah aku, tentu sudah aku tolak, be a honest person lah. Kalau kita tidak tahu, ya katakan tidak tahu. Simpel, kan?”

“Eureka….elu memang selalu cemerlang dan berpikir pragmatis. Apa yang lu katakan itu adalah local values. Tampil apa adanya. Jujur. Sekarang giliran gue yang harus mampu mengemasnya sebagai sebuah  bahan seminar. Bujur[4] melalaklak, Ate!”

“Me..la..la[5]. Please deh! Saya ulangi ya…melala”

“Bujur melala, gadis si pemetik kopi! Sebetulnya aku mau tolak koq. Tahu diri dong. Akar budayaku kan Jawa dan Bali. Tapi kamu mau tahu kenapa aku terima tawaran itu.”

“Tahu. Kamu mau temui gadis pemetik kopi, kan.”

Tiba-tiba tawa kedua gadis belia itu terpingkal-pingkal, seperti saat mereka membicarakan kebodohan dosen mereka yang selalu sok pintar dengan segala teori buku tetapi ketika ditanya tentang praktek lapangan, hampir jawaban mereka selalu sama, “belum ada waktu”.

Kegirangan dua anak zaman itu berhenti saat suara ketukan pintu terasa semakin keras.

“Di, sorry..sorry, aku tinggal ya. Bapak datang tuh. Chao beauty,”

“Ok..ok…see you next month ya, miss you gadis pemetik kopi.”

Telefon ditutup. Atejadi melonjat dari tempat tidurnya, melibaskan dengan gesit selimutnya dan dalam hitungan detik ia sudah berhadapan dengan ayahnya.

Mamakndu i ja[6]?” Pertayaan yang selalu disampaikan oleh Bapak setiap kali tiba di rumah. Pertama sekali orang yang ia cari adalah Mamak. Tetapi kalau yang membuka pintu adalah ibunya, maka pertanyaan sebaliknya akan muncul, “Atejadi di mana”. Kongsi Tarigan adalah pensiunan guru matematika sebuah Sekolah Menengah Pertama di Kabanjahe.

Usia 67 tahun tidak membuat Kongsi menjadi sosok yang tua. Gengamannya masih terasa kuat. Wajahnya masih terlihat muda. Keranjang kopi 12 kilo dengan mudah diangkat dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Sejatinya lelaki Karo, ladang adalah dunianya yang sesungguhnya. Sebelum pergi mengajar, Kongsi  pasti singgah lebih dahulu di ladang, mungkin sekedar melihat apakah ada daun baru pada tanaman sayurnya. Ketika pulang dari sekolah, ia singgah sebentar di rumah untuk ganti baju dinas abu-abu, lalu menyusul Jujuri, istrinya di ladang dan menlanjutkan makan siang di sapo[7].

“Lama kali Bapak pulang! Mamak sudah tidur.”jawab Atejadi kepada bapaknya. Aroma rokok terasa di seluruh badannya. Ia membuka sepatunya, meletakkan sarungnya di kursi. Atejadi tahu betul perjalanan harian ayahnya itu. Kongsi menghabiskan waktunya di kedai kopi setelah kembali dari Pesta Adat di Deli Tua. Mungkin ia sudah tiba di Juma Raja pukul tujuh, tetapi tempat pertama yang ia singgahi pasti kedai kopi dan menghabiskan waktu untuk membahas dunia dan langit bersama yang lain. Kedai kopi adalah wilayah netral dalam kehidupan masyarakat Karo. Kedai kopi adalah public space masyarakat Karo. Mereka bisa membahas apa saja, mulai dari bola, politik, agama, ekonomi bahkan politik luar negeri, pilpres, kebijakan pemerintah tentang dana desa, BPJS bahkan rambut reotnya Donald Trump. Di setiap kedai, satu atau dua koran akan selalu berserakan dari satu meja ke meja yang lain. Dengan kehadiran smartphone sumber informasi mereka bertambah semarak. Tidak jarang mereka membahas satu account facebook sosok Karo yang sedang menjadi tranding topic dengan seribu satu macam komentar.

Atejadi hanya melihat punggung Bapak yang masih tegar saat melangkah cepat menuju kamar utama. Ia yakin mamanya sudah bangun tetapi malas turun dari tempat tidur, apalagi dia sudah dengar aku membukakan pintu. Atejadi tutup kembali dan menguncinya.

Desa Juma Raja menikmati gelapnya malam bertabur kilau bintang di langit. Dari rumah sebelah tembang kenangan masih terdengar sayup sayup, erkata eedil i kuta medan ari o turang, ngataken kata laus erjuang ari o turang…….. Lagu ini bercita tentang perjuangan masyarakat Karo melawan Belanda. Lagu ini adalah lagu panggilan kepada seluruh pemuda dan pemudi Karo untuk turun ke medan perang dan mengusir penjajah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Atejadi mematikan lampu kamar tidurnya, menarik rapat rapat selimut tebal berwarna coklat muda itu hingga kedagunya. Ia pejamkan matanya sesaat dan larut dalam komat-kamit doa menjelang tidur. Sementara lagu Erkata Bedil,  karya Djaba Depari sayup-sayup mengantarkan tidur lelap Atejadi. Penjajah sudah lama pergi, tetapi negeri ini sepertinya masih terjajah, bisik Atejadi pada level kesadaran terakhir sebelum ia lupa akan semuanya.

 

catatan kaki

[1] Piso Surit adalah salah satu lagu, syair Karo yang menggambarkan seorang pria yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung pincala (burung yang berekor panjang dan pandai bernyanyi) yang sedang memanggil-manggil. Kicau burung ini bila didengar secara saksama sepertinya sedang memanggil-manggil dan kedengaran sangat menyedihkan. Burung Piso Surit biasanya berkicau di sore hari. Jenis burung tersebut dalam bahasa karo disebut “pincala”.Lagu ini adalah karya Komponis Nasional Djaga Depari.

[2] Ngarap gestung api bas lau terjemahan harafiahnya adalah mengharapkan api menyala di dalam air. Sebuah pekerjaan yang tidak mungkin tetapi tetap saja dilakukan. Pun kalau terjadi, maka kejadian itu adalah sebuah mukjizat, mukjizat alam.

[3] Bro adalah panggilan khas antara kedua gadis, Atejadi dan Diandra. Mereka menggunakan kata ini sebagai ganti sis.

[4] Bujur Terimakasih

[5] Melala Banya.

[6] Mamakndu i ja Ibumu di mana.

[7] Sapo, gubuk kecil di tengah ladang atau sawah

(Advent Tambun 02.05.2018)

_____________

IKLAN

PESAN KOPI KARO

Check Also

ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Biara Santa Clara, Sikeben

Atejadi turun dari bus Sinabung Jaya, bus khas tanah karo yang terkenal dengan nyali para …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − 4 =