ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Jujuri

“Jadi…Jadi….enggo , Nakku[1], enggo me. Udan[3] ee….,” teriak Jujuri, ibu Atejadi. Jujuri adalah sosok khas wanita Karo. Pekerja keras. Menghabiskan hari demi hari bergelut dengan tanah dan tanaman. Tempat permainan yang paling indah bagi wanita Karo adalah ladang. Sejak mereka bisa dibawa keluar rumah,  perkenalan pertama pada alam adalah pergi keq ladang. Bayi kecil Karo akan digendong pada bagian punggung, sementara si ibu akan memetik kopi atau mencangkul. Berjam-jam bayi kecil Karo berada di pungung ibunya sejak berangkat ke ladang dan kembali ke rumah menjelang sore hari. Anak kecil dipungung, keranjang sayur di tangan kanan dan kayu bakar di atas kepala, adalah lukisan kegagahan wanita Karo yang dilahirkan sebagai petani. Mereka harus bangun lebih pagi untuk mempersiapkan makanan dan kembali dari ladang lebih cepat karena harus mempersiapkan makan malam. Tidak heran bila di rumah masyarakat Karo pada umumnya, hanya terdapat sebuah cermin kecil di dekat pintu. Tidak ada waktu untuk bersolek. Lagipula tidak ada gunanya tampil elok dihadapan pohon-pohon kopi atau sayur mayur hijau di ladang.

Pukul tujuh pagi, Jujuri Barus, seperti wanita lain di Tanah Karo sudah berangkat ke ladang dengan seperangkat alat tani dan bekal makan untuk santap siang. Waktu mereka akan terkuras di atas tanah gembur bekas abu gunung berapi. Kedekatan dengan tanah dan alam, menjadikan ladang sebagai rumah pertama dan utama. Jika ladang memberikan hasil, maka asap dapur tidak terhambat untuk mengepul. Tidak heran bila ladang masyarakat Karo lebih rapi dan tertata daripada rumah fisik di kampung. Rumah adalah bagian dari ladang, sehingga tidak heran bila peralatan pertanian, seperti cangkul, babat, sabit, pompa atau keranjang berserakan di teras bahkan di dalam rumah.

Dalam keluarga besarnya, Atejadi dipanggil Jadi. Padahal di sekolah dan bersama teman-temannya, ia lebih kerap disapa Ate.  Tidak ada aturan baku dalam budaya Karo soal nama. Bahkan ada budaya yang aneh dalam hal penamaan bayi yang baru saja lahir dalam keluarga Karo. Katanya, nama disematkan begitu saja sesuai apa yang pertama kali dilihat atau yang sedang terjadi pada saat itu. Sehingga tidak heran bila ada orang yang bernama KT, singkatan dari Kelapa Tumbang. Menurut cerita, nama itu diberikan kepada putra keluarga tersebut, karena pada saat ia lahir , kelapa di belakang rumah kakeknya tumbang.

Sudah tiga hari hujan menguyur Taneh Karo. Langit terasa sendu, awan hitam tak pernah lepas dari lukisan bumi Sinabung. Atejadi berlari menuju sapo, gubuk kecil yang ada di tengah kebun kopi sembari membaca keranjang kopinya yang belum seberapa.

“Paling tiga kilo, Mak[4]. “kata Atejadi membuka pembicaraan begitu tiba di salam sapo.

“Nanti lagi, Nakku. Tunggu hujan ini reda. Mudah-mudahan kita bisa bawa 40 kilo seperti kemarin,”sahut Jujuri sembari melihat jauh ke langit hitam, seakan-akan berharap agar alam lebih mendengarkan permintaan mereka.

“Kita butuh lebih banyak lagi, Mak. Mudah-mudahan cukup untuk aku bawa sebagai sampel minggu depan.”lanjut Atejadi.

“O..ya…Mamak lupa kapan festival kopi yang di Jakarta itu?”

“Tangga 29 April, Mak. Pas satu minggu lagi,”jelas Atejadi yang sudah mempersiapkan beberapa buah kopi pilihannya untuk diikutsertakan dalam festival kopi Nusantara yang diselenggarakan oleh Kementrian Pertanian bekerjasama dengan Kementrian Perdagangan. Kopi menjadi komoditi primadona sejak Joko Widodo mengambil sumpah sebagai presiden. Ini adalah pertama kali Atejadi ikut serta dalam acara terpenting Kopi Nusantara. Para petani akan berusaha memperlihatkan kopi terbaik mereka dalam acara tersebut. Event ini selalu ditunggu oleh para petani kopi. Ahli kopi dari dalam negeri maupun luar negeri akan menghadiri acara tahunan ini dan mencoba menemukan patner agrobisnis terbaik. Atejadi sangat terdorong karena tahun lalu pemenang kopi terbaik dalam festival yang diadakan di Bali adalah seorang ibu dari Sidikalang. Dalam hati kecilnya, Atejadi ingin membuktikan bahwa kopi Karo adalah salah satu singel origine yang layak diperhitungkan.

“Apa kata Elfran soal kopi kita ini,”tanya Jujuri pada putri keduanya itu. Elfran adalah tokoh kopi Juma Raja yang mampu mendirikan Koperasi Petani Kopi di Juma Raja. Elfran menyelesaikan studi sarjana muda di Institut Pertanian Bogor. Ia menyelesaikan tugas akhirnya di sebuah perkebunan swasta terbesar di Kalimantan. Setelah lelah menjadi pemuda perantau, ia memutuskan membawa seluruh keluarganya untuk kembali ke Tanah Karo dan memilih kopi sebagai sahabat hidupnya. Awalnya tidak mudah bagi Elfran yang sudah terbiasa dengan struktur jelas dan teratur di sebuah perusahaan pertanian multinasional, kini ia harus berhadapan dengan budaya kerja yang bersifat ‘suka-suka’. Ada saja alasan bagi penduduk desa Juma Raja dan desa-desa lainnya di Tanah Karo untuk absen tidak pergi ke kebun karena harus menghadiri undangan pesta-pesta adat.

Elfran merasa terpanggil untuk membangun desa masa kecilnya itu. Baginya Kopi dalah kehidupan baru setelah kehancuran jeruk. Berangkat dari ketidaktahuan, Elfran tumbuh menjadi salah satu kamus berjalan kopi Karo. Keputusannya tiga tahun lalu meninggalkan pekerjaan di sebuah perusahan swastan perkebunan sawit, kini telah membuahkan hasil bersama nikmatnya aroma kopi Karo. Buyers nasional dan internasional memberikan kepercayaan padanya.

“Bagus, bagus. Katanya sudah bagus, Mak. Hanya perlu dijaga supaya buah cherry -nya tetap seperti ini semua,” lanjut Atejedi sembari membuang beberapa biji kopi yang masih hijau dari dalam keranjang. Kumpulan biji-biji kopi yang merah menyala dan bersinar karena dilapisi air hujan kontras dengan langit hitam yang tidak bisa ditempus sinar matahari.

“Mudah-mudahan besok kita bisa panen lebih banyak. Besok bapakmu kan bisa ke ladang. Hasil panen pasti lebih banyak,” lagi-lagi Jujuri memberikan semangat kepada putrinya. Kongsi, ayah Atejadi tidak bisa ikut ke ladang karena harus menghadiri pesta pernikahan seorang saudara di Delitua. Pukul lima pagi Kongsi Tarigan bersama beberapa penduduk kampung Juma Raja sudah berangkat. Mereka menyewa mobil kecil agar bisa langsung menuju lokasi pesta. Sebagai anak beru [5]Kongsi harus tiba lebih awal untuk membantu persiapan pesta.

“Jadi, hujan sudah berhenti, Nakku. Ayo kita petik lagi…!”

 

catatan kaki

Advent Tambun 05.05.2019

[1] Nakku adalah panggilan sayang dari orang tua masyarakat Karo kepada putra-putrinya.

[2] Enggo me sudahlah

[3] Udan hujan

[4] Mak berasal dari mamak, Ibu. Panggilan lain untuk ibu adalah nande .

[5] adalah golongan yang mempersiapkan pesta pernikahan. Mereka bertangungjawab terhadap terlaksananya pesta dengan baik, memasak nasi, menyiapkan sayuran, merapikan tempat pesta dan melayani para tamu.

[6] . Anak beru berasal dari kata diberu yang artinya wanita. Dalam struktur adat masyarakat Karo keluarga wanita adalah pihak yang menjadi pelayan dalam pesta adat. Peran kultural ini sudah terbentuk dengan sendiri, sebuah aturan adat kehidupan. Tahu adat, adalah bagian penting dalam masyarakat Karo.

_____________

IKLAN

PESAN KOPI KARO

Check Also

ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Biara Santa Clara, Sikeben

Atejadi turun dari bus Sinabung Jaya, bus khas tanah karo yang terkenal dengan nyali para …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 1 =