ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, My Dear

Ember hitam besar. Air  bersih dan dingin, khas karakter air pancuran sawah-sawah hijau Tanah Karo.  Biji kopi merah segar hasil pilihan jemari lentik Atejadi  kini berenang berdesakan di dalam kolam seluas ember. Liturgi pasca panen dengan sentuhan semi wash adalah ilmu dasar petani kopi sejati. Atejadi mengamini proses ini sebagai tahap awal pembuktian pengetahuannya tentang kopi. Proses ini layaknya memberikan motif batik Solo pada selembar kain katun putih, atau sentuhan tangan halus pada kayu jati ukiran Jepara. Atejadi menarik lengan bajunya lebih tinggi untuk melarutkan diri dan pikirannya dalam liturgi suci pengolahan kopi arabika Karo.

“Jadiii…teleeeefon, Nakku!” teriak ibunya dari rumah panggung mereka.

Reaksi cepat Atejadi, ciri khas eks ketua OSIS SMA 1 Kabanjahe menuju ruang tengah dan menyambar tuan Samsung dari meja tamu. Porfile foto yang muncul adalah Siegestor, Gerbang Kemenangan yang berdiri megah di kota Munih, Jerman dengan propile account  ‘My Dear’.

Sejurus Atejadi mengangkat tuan Samsung, tetapi telefon telah terputus dari ujung bumi. Tapi dalam hitungan detik muncul pesan pendek.

Hi, my sweet black, terlalu lama tidak mendapat kabar dari kaki Gunung Sinabung.

Aroma kopimu sampai ke Jerman, ha..h..ha….

Atejadi membaca pesan itu sembari melangkah mendekati ember hitam besar, kolam kecil di mana sobat-sobat kopi merah berenang berdesakan.

I miss u.

Pesan itu berlanjut

Kelopak mata Atejadi bertambah lebar membaca tiga kata tersebut, dan semakin besar hingga ia tidak sadar ketika kopi-kopi merah merona keluar dari peraduan air secara perlahan tetapi teratur membentuk sosok wajah yang melayang di depan Atejadi. Wajah seorang pemuda yang sedang menyelesaikan studi di Ludwig Maximilian University of Munich dengan spesialisasi nanoteknologi.

Mereka bertemu saat acara Persatuan Pelajar Indonesia se-Eropa (PPI) dua tahun lalu, beberapa bulan sebelum Atejadi kembali dari Swiss. Kekaguman Atejadi tumbuh bukan karena suaranya yang tegas, tetapi prinsip dan pandangannya yang sangat jelas, Desa Kuat= Negara Kuat.

Dalam rapat persiapan PPI, ia menegaskan agar topik utama dari pertemuan PPI se-Eropa tahun itu menekankan bahwa pentingnya kembali kepada akar budaya-budaya nusantara atau istilah keren yang digunakan peserta rapat ‘local values’. Ia berdiri tegar mengeluarkan uraian-uraian data berbasiskan angka serta analisis sosial tentang rusaknya tatanan berbangsa karena menjauhkan diri dari budaya.

Paparan My dear inilah yang sesungguhnya mendorong Atejadi untuk kembali ke Juma Raja usai menyelesaikan study Micro Economic di Swiss, padahal jabatan kepala cabang bank BNI di Jakarta Barat sudah menunggunya.

Atejadi memberikan ucapan selamat kepada My Dear, sesaat setelah rapat memberikan keputusan bahwa tema pertemuan tahunan Desa Kuat = Negara Kuat. Atejadi tidak menyadari bahwa air mata menetes di pipi hitam manisnya. Dan My Dear menghapus air mata itu dengan tangan kanannya dihasi senyum dan sebuah kata-kata indah, my black sweet. Keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Atejadi melihat kembali ucapan itu berwujud tulisan di layar handphone Samsung.

Irama detak jantung Atejadi semakin kencang ketika ia meyaksikan gerakan bibir tiga dimensional kopi-kopi kecil yang melayang di depannya mengatakan i miss you.

Wajah yang tersusun dari ratusan bahkan ribuan biji kopi merah itu tersenyum, mengerdipkan mata dengan genitnya. Atejadi larut dalam kerinduan cinta pada sosok lelaki pujaan.

Kedua tangannya menari dengan lembut membilas biji-biji merah kopi Karo, tetapi matanya tetap terpaku pada patung hidup wajah My Dear yang melayang di depannya. Atejadi merasakan kembali gengaman erat My Dear saat mereka harus berpisah di Bandara Franfrut sebelum terbang kembali ke tanah air.

Atejadi menyentuh biji-biji kopi dalam air, tetapi detak jantungnya mengulangi bahasa tubuh di bandara kala itu. Wajah bentukan biji-biji kopi itu tiba-tiba berubah menjadi gambar love, simetris dan berwarna merah menyala. Mata Atejadi tak berkedip. Tangannya kini berhenti. Ia dapat mendengarkan dengan jelas detak jantungnya persis sama saat ia harus melepaskan gengaman My Dear di pintu masuk ruang check in bandara Frankfrut.

Pesan lain masuk ke layar Samsung.

Tetapi Atejadi tetap saja terpaku pada patung hidup berbentuk hati itu yang kini berubah menjadi sebuah mulut sensual. Atejadi tersenyum, ia mengennal lukisan kedua bibir itu dan selalu berharap agar senyum itu bisa menjadi miliknya seorang selamanya.

Lukisan bibir dari buah-buah kopi Karo itu seakan-akan mampu membaca isi hati Atejadi. Senyum itu berubah menjadi bentuk mulut yang bersiual. Dan bersuara merdu. Siualan yang melantukan lagu Ello Pergi untuk Kembali,

….selamat tinggal kasih

sampai kita jumpa lagi,

aku pergi takkan lama

hanya sekejap saja

ku akan kembali lagi

asal kan engkau tetap menanti

….du..du..du…du…

Mata Atejadi terpejam lembut, tubuhnya berhenti bergerak, semilir angin sore desa Juma Raja membawanya terbang ke Munich Jerman tanpa harus melewati airport chcek in securty dan stempel paspor. Ia terbang bersama cinta dan aroma kopi Karo…..

 

(Advent Tambun 04.05.2018)

ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO 

BAB LANJUTAN

_____________

IKLAN

PESAN KOPI KARO

Check Also

ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Biara Santa Clara, Sikeben

Atejadi turun dari bus Sinabung Jaya, bus khas tanah karo yang terkenal dengan nyali para …

One comment

  1. cakep banget ceweknya..eh..he…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 + 12 =