ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Temantaras

Sejuah mata memandang, Gunung Sinabung tetap menjadi titik terluar yang bisa dicapai oleh kedua bola mata. Ketenangannya selama tigaratus tahun telah membuat masyarakat Karo terlena dalam pangkuan alam yang asri. Kini setiap detik ia memberikan peringatan bahwa tidak ada ketenangan abadi di muka bumi ini. Atejadi menatap bulang[1] alam itu dengan penuh takjub. Deburan debu yang hampir setiap hari terlempar dari puncaknya membuat semua mahkluk yang berada dalam jangkauannya selalu berdoa pada pencipta alam agar berbelaskasih.

Dalam paduan cinta dan benci pada gunung Sinabung itu, Atejadi menyapa satu persatu pohon kopi di ladang ibunya. Ia seakan-akan bercerita pada dedaun pohon kopi yang kadang-kadang tertutup debu tipis gunung Sinabung yang menandakan bahwa malam sebelumnya ada letusan kecil. Bercerita tentang kerasnya hidup setelah letusan dasyat september 2013. Alam yang selama ini bagai sahabat setia dalam perjalanan hidup masyarakat Karo, tiba-tiba menjadi ancaman maha dasyat. Alam yang selalu menjadi ibu yang lembut, berubah menjadi neraka pertengkaran rumah tangga yang setiap saat bisa meletus.

Atejadi yang tergabung dalam Relawan Gunung Sinabung dapat merasakan beratnya penderitaan keluarga yang harus meninggalkan kampung halaman. Mereka harus menyaksikan sendiri kebun jeruk tinggal ranggas tak berbentuk. Mimpi menyekolahkan anak di kampus terbaik negeri ini berubah menjadi ratapan sedih perih tak kunjung henti. Tuhan, mengapa Engkau hukum kami dengan bala ini? Apakah salah kami? Tak jarang rintihan ibu-ibu yang terdampak bencana ledakan gunung Sinabung terdengar perih.

Atejadi, kepada kopi-kopi yang juga turut jadi korban debu gunung bercerita susah –sedihnya nasib keluarga yang terdampak letusan gunung Sinabung. Suasana sepi, berdua dengan pepohonan kopi, membuat Atejadi semakin dekat dan semakin berharap pada bulir-bulir hijau buah kopi agar segera mengubah dirinya menjadi bulir-bulir merah siap panen.

Lima tahun lalu, ladang kopi itu dihiasi oleh sesuatu yang jauh lebih nikmat dan mengoda. Jeruk. Jeruk Medan kata orang banyak. Tetapi sejatinya jeruk-jeruk yang membanjiri semua pasar-pasar tradisional Indonesia datang dari dataran tinggi Karo. Sebelum paneh, kebun-kebun jeruk rakyat berubah menjadi titik-titik kuning liar tak merata di antara lautan hijau daun jeruk. Mata dimanjakan oleh lukisan alam tersebut, tetapi yang paling memanjakan adalah penghasilan yang tiba-tiba melonjak setiap kali panen jeruk. Transaksi hasil panen jeruk, tak jarang dilakukan di depan kasir bank, agar sebagian besar hadiah alam dalam rupa jeruk langsung masuk dalam rekening bank. Aman dari niat jahat orang yang tidak seberuntung petani jeruk.

Roda hidup terus berputar. Jeruk hanya tinggal kenangan. Keluarga Atejadi pun mengalami yang sama. Aroma jeruklah yang telah mengantarkan Atejadi dan abangnya ke Jakarta untuk menyelesaikan sarjana. Tanpa jeruk, mungkin cerita hidup Atejadi tidak seperti saat ini.

Atejadi menceritakan semua itu kepada ranting-ranting kopi. Aku harap kopi menjadi jeruk baru dalam hidup masyarakat Karo. Harap Atejadi setiap kali memasuki ladang satu hektar kopi keluarganya. Atejadi masih ingat bagaimana masa kecilnya dihabiskan di bawah pohon kopi. Puluhan tahun masyarakat Karo sudah mengenal kopi, tetapi pohon-pohon kopi itu ditebang untuk ditanami jeruk pada tahun delapan puluhan. Beberapa tahun belakangan ini semua pohon jeruk kehilangan kemampuannya melawan serangan hama lalat buah. Bencana terbesar masyarakat Karo sesunggunya bukan letusan gunung Sinabung tetapi hancurnya pertanian, karena detup jantung masyarakat Karo tergantung pada alam pertanian.

“Bi…bi….bi…Bibi[2] Ate, ” Suara teriakan terdengar dari kejauhan. Sejurus Atejadi menoreh ke arah hembusan suara. Sepertinya ia mengenal suara mungil itu. Tetapi siapakah anak kecil yang datang pada pagi menjelang siang ketika semua anak sekolah duduk rapi dalam ruang kelas.

“Temantaras……..!!!!” teriak Atejadi setengah tak percaya. Keponakannya yang tinggal di Solo muncul tanpa peringantan apapun sebelumnya. Temantarasa adalah putra dari Usaha, satu-satunya abang Atejadi yang tinggal dan bekerja di Solo sebagai dosen micro ekonomi di Universitas Sebelas Maret. Keponakan dan bibi itu berlari saling mendekat dan akhirnya Temantaras sudah berada dalam gendongan Atejadi. Ciuman berkali-kali menjadi hadiah terindah pada pipi masing-masing. Kedunya bertukar salam dengan ciuman di pipi. Desah nafas Temantaras masih berlari berkejaran-kejaran. Rindu pada bibi tunggalnya memberinya tenaga ekstra untuk berlari di antara rerumputan ladang.

“Koq bisa…,”tanya Atejadi tetap tidak percaya keponakan tunggalnya itu tiba-tiba muncul di kebun kopi.

“Papa seminar di USU, Bi,”jawab Temantaras sembari mengatur nafasnya. Dari kejauhan terlihat ibunya, Tiur dengan senyum lebar menyaksikan putranya dan iparnya saling melepas rindu.

“Abangmu kami tinggalkan di Medan. Kami datang ke sini. Aku sudah minta cuti ke Penghudi Luhur,” jelas Tiur menjawab tanda tanya yang muncul dari tatapan Atejadi pada kakak iparnya itu sembari memberikan salam dan cium pipi. Temantaras adalah siswa di SD Penghudi Luhur, Surakarta.

“Asiiikkkkkkkkkkk…”ungkap Atejadi sembari tetap mengendong keponakannya itu. “Temantaras bisa bantu bibi petik kopi, dong.”

Inggih.[3]..” jawab Temantaras pendek khas masyarakat Jawa ketika setuju dengan sesuatu.

“Duh, Temanta ras sudah pintar ya, bahasa Jawa. Anak pintar!”

“Kopinya enak, lho,” potong Tiur sembari memetik satu dua buah kopi yang ranum. “Teman-teman kerja Abangmu sudah ketagihan dengan kopi Karo yang kamu kirimkan.”

Mauleate[4], Kak.”jawab Atejadi. Tiur, kakak iparnya berasal dari Harapohan, pulau Samosir. Desa kecil di atas pegunungan pulau Samosir. Hamparan indah Danau Toba terlihat indah dari desa kakak iparnya. Atejadi terpesona dengan pemandangan alam itu saat pernikahan iparnya tersebut 9 tahun yang lalu.

“Di kedai kopi baru dekat tempat kerja Abangmu juga sudah mulai menjual kopi Karo,” lanjut Tiur.

 

05.05.2018

catatan kaki

[1] Bulang …kakek sebuah sebutaan yang diberikan kepada seorang kakek atau orang yang sudah tua. Tetapi juga bisa diberikan kepada benda atau mahluk yang dianggap memiliki kekuatan atau kekuasaan, seperti pohon besar atau gunung.

[2] Bibi …adalah panggilan seorang keponakan kepada adik atau kakak perempuan bapaknya. Biuda, adalah bibi yang paling muda dalam keluarga, Bitua adalah bibi yang paling tua dalam keluarga. Bitengah, adalah bibi yang berada di antara Biuda dan Bitua.

[3] Inggih… adalah ungkapan masyarakat Jawa yang artinya, ia atau setuju.

[4] Mauleate….  adalah bahasa Batak Toba yang artinya terimakasih.

_____________

IKLAN

PESAN KOPI KARO

Check Also

ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Diandra

Kicau burung Murai bersahut-sahutan seakan hendak menyapa gadis hitam manis pemilik anting mungil saat ia …

One comment

  1. Bagus cerita nya. Ditunggu kelanjutannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − eleven =