ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Diandra

Kicau burung Murai bersahut-sahutan seakan hendak menyapa gadis hitam manis pemilik anting mungil saat ia meletakkan keranjang rotan penuh dengan buah cherry[1] merah merona. Tidak terlalu banyak. Mungkin hanya 10 sampai 12 kilo.

Matahari masih enggan memperlihatkan teriknya. Embun-embun pagi baru saja hilang dari dedauan hijau kopi Arabika desa Juma Raja. Baju hangat belum saatnya dilepas karena udara dingin Tanah Karo masih membungkus rapi kota-kota seperti Berastagi, Kabanjahe dan desa-desa kecil yang bertumpuk ria di dataran tinggi Karo.

Atejadi, menatap dengan mesra bulir-bulir merah yang masih bersinar karena embun pagi yang melekat dikulit luarnya, seperti vernis di atas kayu jati tua Jepara. Alam sepertinya telah memiliki hukumnya sendiri saaat memperlihatkan keindahannya kepada mata Atejadi.

Secara perlahan ia merapikan permukaan keranjang kopi sembari memilah satu dua biji kopi Arabika Karo yang kopong. Sebelum ia buang, sekali lagi ia pastikan bahwa buah cherry itu memang tidak layak duduk bersama buah pilihan lainnya. Sesekali ia melihat lebih lama si cherry yang akan dibuang, seakan-akan ia ingin mencari tahu mengapa defect[2] itu terjadi pada si butir kopi.

Mata dan tangannya bekerja secara sinergis memastikan semua butir-butir kopi dalam karung rotan telah melewati visual selective. Merah, semua merah. Kesimpulan mental itu selalu terbayang dibenak Atejadi ketika menjalani liturgi pemilahan kopi.

Seketika liturgi berganggu oleh dering lagu ring tone “ ngarap gestung api bas lau[3]Atejadi memilih lagu itu sebagai kenangan indah dalam setiap langkahnya, mengharapkan api menyala dalam air, sebuah ungkapan penuh makna. Hingga saat ini hanya letusan gunung berapa yang mampu menghidupkan api di dalam air. Bagi Atejadi lagu itu adalah semangat api yang ada di dalam gunung Sinabung. Sejatinya lagu itu bercerita tentang cinta yang tak mungkin terwujud.

“Mbak Diandra, apa kabar? Di mana sekarang… betewe, tumben nelefon aku,” ungkap Atejadi dengan opened sound sehingga ia bisa melakukan percakapan dengan sahabatnya itu sembari melanjutkan liturgi pemilihan biji-biji kopi. Tangan kirinya menggegam Samsung dan tangan kanannya tetap lincah mengeluarkan daun-daun kecil dari dalam keranjang.

“Eeeee, lagi ya..lagi…aku ingatkan lagi….Don’t call me, Mbak!”

Sorry…sorry…Di!” How are you beauty?”

“Kereennnn….sekarang kamu sibuk di kopi yach. Wow…akhirnya kamu bisa pulang kampung dan benar-benar menjadi petani kopi. Salud, bro!” puji Diandra, dosen Fisika di Atmajaya Jakarta yang baru saja pulang dari Jerman setelah menyelesaikan menyelesaikan S2nya.

“Di….., kopi itu indah, cantik sepertimu, he..he.he… Tahu nggak sih, aku semakin hari semakin menemukan rahasia dibalik kopi.” Ungkap Atejadi yang tetap melanjutkan liturgi memilah kopi.

“Alahaaahahhhhh aku tahu….., itu mah alasan kamu saja. Coffee is just an excuse kan? Bilang saja pariban sudah menanti uluran tangan manis gadis pemetik kopi.” goda Diandra dibalik phone.

“Hei…it’s not me…lah. Kamu datang deh ke Juma Raja, entar aku buka satu demi satu rahasia dibalik segelas kopi pahit..he..he.he…. Kopi adalah sebuah peradaban lho, Di.” Nada bicara Atejadi terlihat berubah. Enam bulan bersentuhan kopi mulai membuka matanya bahwa kopi memiliki daya tarik luar biasa. Lebih dari itu kopi mampu mengubungkan dirinya dengan dunia yang sangat luas dan berlapis. Baru-baru ini dia bertemu dengan Dr. Thelma Gomez, ahli kopi dari Kolombia dalam sebuah konferensi kopi di Bali bulan Januari tahun ini. Dr.Thelma Gomez adalah pakar kopi yang telah menemukan sebuah proses pengolahan kopi agar menghasilkan kopi beraroma khas……

“Yah… aku sih percaya ajalah, kepadamu, hitam manisku! Apa sih yang nggak dikatakan oleh gadis hitam manis berambut panjang, yang bernama Atejadi….ha..ha..ha.ha…” ujar Diandara sembari mengoda sahabatnya itu melalui telefon.

“Aku serius lho, Di. Sejarah kopi adalah sejarah peradaban. “ lanjut Atejadi menyakinkan sahabatnya itu.

“O..ya..!” balas Diadra. “Papa hanya minta tambahan gula setiap kali mama suguhkan kopi sebelum papa berangkat kerja. Hanya sesekali aku dengar kalau papa menyebutkan kopi Lampung pahit tapi enak. Kopi Gayo ada asem-asemnya. Nggak pernah tuh papa bicara soal peradaban…..” lanjut Diandra.

“Aku serius, lho, Di! Kamu tahu nggak artinya kopi Arabika?” tanya Atejadi sembari tanganya tetap lincah memilah-milah cherry defects.

            “Sorri..sorri…aku dipanggil tuh sama Bapak Wakil Rektor IV, kita ada rapat nih…Sorri ya aku tinggalkan! Besok kita lanjutkan cerita kopi dan peradaban…ha..ha.ha..menurut versi Atejadi, gadis pemetik kopi Karo…he..he.he.he…Bye!” tutup Diandra diujung telefon sembari bangkit berdiri dan berlari kecil ke arah salah satu pimpinan akademik Universitas Atmajaya tersebut.

Atejadi meletakkan telefonya dan kembali larut dalam protokoler pemisahan cherry defects.

 

(Advent Tambun, …05.2018)

ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO 

BAB LANJUTAN

_____________

IKLAN

PESAN KOPI KARO

Check Also

ATEJADI, GADIS PEMETIK KOPI KARO, Biara Santa Clara, Sikeben

Atejadi turun dari bus Sinabung Jaya, bus khas tanah karo yang terkenal dengan nyali para …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × two =