OPINI : AGAMA dan POLITIK (tulisan ini sudah terbit di MINGGUAN HIDUP MARET 2018)

WhatsApp Image 2018-03-13 at 13.10.44

Kedua tatanan hidup manusia ini memiliki visi dan misi yang sama, keduanya berjuang agar manusia sebagai individu dan makluk sosial dapat hidup dengan damai dan sejahtera. Yang pertama menurunkan nilai-nilai kehidupan dan tata cara hidup individual dan sosial berdasarkan spirit spritual. Atau dengan kata lain nilai-nilai itu ditarik dari keyakinan bahwa adanya Tuhan dan peran aktif Tuhan dalam hidup manusia. Pada tataran ini, tidak ada ruang berada bagi mereka yang tidak percaya pada Tuhan. Mohon dipahami bahwa pada bahasan ini saya tidak membedakan agama-agama yang ada.
Pada tatanan hidup yang kedua, politik, visi misinya mengarahkan warga negara (istilah yang lebih tepat bila dibandingkan dengan umat manusia) untuk dapat hidup dengan damai sejahtera dalam suasana yang adil dan makmur sejahtera. Pada paparan ini, kaum yang meragukan adanya Tuhan pun layak mendapat tempat sama besarnya sebagai warga negara. Sehingga sangat aneh bila suatu saat nanti ada pertanyaan tentang percaya tidaknya seseorang pada Tuhan. Orang yang tidak percaya pada Tuhan sekalipun dapat hidup dalam alam demokrasi yang adem. (Mohon dibaca, bahwa pada paragraf ini, saya tidak membahas tatanan hidup di Indonesia).
Tidak sedikit dari antara mereka, yang dengan terang terang menyatakan dirinya tidak percaya pada Tuhan tetapi mengamalkan spirit politik dengan baik. Bagi mereka, tidak perlu kehadiran Tuhan untuk berbuat baik dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Mereka berbuat baik, karena sudah menjadi tuntutan hidup itu sendiri. Jika Anda ingin mendapatkan hidup yang tenang dan sejahtera, maka semuanya berawal dari diri sendiri, tanpa harus melibatkan kehadiran Tuhan. Atau dalam bahasa sederhananya, tidak perlu ke rumah ibadat untuk menjadi orang baik.
Persis sebaliknya, tidak sedikit orang yang sangat mengaungkan agamanya, tetapi kelakukannya sangat buruk dari sudut pandang politik. Saya tidak perlu menyebutkan nama, kahlayak pembaca pasti dengan mudah menyebutkan satu per satu nama-nama beken dalam kancah perpolitikan Indonesia, untuk menyebutkan nama-nama politikus dunia, mungkin harus berpikir sejenak.
Membaca bahasan singkat ini, akan muncul beberapa pemikiran, perlu nggak sih agama untuk menjalani politik dengan baik? Mungkin pertanyaan lebih ekstrim lagi, untuk apa sih agama ini, kalau para umatnya tetap saja tak mengamalkan ajaran agamanya? Ini adalah tantangan mereka yang dengan sadar dan mau menjadi umat dari agama tertentu. Tidak sedikit orang meninggalkan sebuah agama dan memilih menjadi sosok pasif, atau bahkan bersikap kontra, bukan karena ajaran agamanya tidak tepat, tetapi karena penganutnya yang berbanding terbalik antara apa yang diucapkan dan dilakukan.
Saya, tentu akan berpihak pada pentingnya agama dalam kehidupan bernegara. Atau dengan bahasa lainnya, agama tetap dibutuhkan agar politik berjalan dengan baik. Tatanan nilai-nilai agama diturunkan dalam tatanan nilai yang tercermin dalam kebijakan-kebijakan publik. Contoh senderhana, tatatanan nilai agama seperti cintailah sesamamu manusia diterjemahkan dalam kelima sila pancasila lalu ke dalam UU Dasar, dan selanjutnya hingga peraturan daerah, atau bahkan keputusan kepala desa.
Agama tataran nilai lebih agung
Ketika kita bicara mengenai agama sebagai sebuah institusi (bukan tataran nilai-nilai ajaran) maka kita bicara tokoh agama dan umatnya, yang kedua-duanya adalah warga negara dalam tataran hidup berpolitik. Baik tokoh agama dan umatnya memiliki hak dan kewajiban yang sama dihadapan politik.
Tetapi pertanyaannya, apakah kedua peran itu memiliki tanggungjawab yang sama dalam dunia politik? (Sekali lagi mohon dibaca tidak hanya sebagai refleksi untuk Nusantara). Tentu tidak, tokoh agama, pemuka agama memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar. Mereka adalah cermin dari tataran nilai-nilai ajaran agama masing masing. Mereka adalah panutan bagi umatnya. Pada posisi inilah para muka agama harus mampu menempatkan dirinya sebijaksana mungkin dalam proses perpolitikan. Saya pribadi melihat agama-agama adalah sebuah kekuatan keempat atau kelima dari sistem politik demokratis. Para pemuka agama memiliki tanggungjawab untuk membawa tongkat moral dan spritual, dua nilai yang jauh lebih tinggi dari nilai-nilai yang ditawarkan oleh politik.
Dalam bahasa sederhana, saya tidak ingin para pemuka agama merendahkan dirinya dengan turut serta dalam kampanye politik untuk kemenangan politikus tertentu, terlepas apapun partainya.
Para pemuka agama, selayaknya menjadi brahmana nilai, dan biarkanlah para politisir menjadi kesatria yang selalu menatap lebih tinggi kepada para kaum brahmana. Tetapi tidak sedikit para brahmana lebih asik masyuk sibuk berdendang ria dengan kekuasaan duniawi yang sifatnya sangat temporal. Godaan dunia ini ternyata lebih mengiurkan apalagi mampu mencari pembenaran diri dengan mengatakan, demi kesejahtaran umat, etc.
Politik kekuasaan dan Politik kesejahteraan
Apakah agama sebagai sebuah institusi dalam negara layak berpolitik? Jawaban saya ya, bahkan harus terlibat. Tetapi terlibat dalam sisi politik kesejahteraan. Dalam contoh simpel, ketika seorang pemuka agama meneriakkan agar pemerintah setempat memperhatikan kerusakan lingkungan sebuah wilayah, pemuka agama tersebut sudah berpolitik, tetapi bukan politik kekuasaan tetapi politik kesejahteraan.
Ketika sekumulan umat turun kejalan dan menyuarakan agar pemerintah menyiapkan sistem kesehatan dan pendidikan yang lebih baik bagi semua warga, maka agama sudah melakuakn politik kesejahteraan.
Ketika pemuka agama dan atas nama agama tertentu mengajak umatnya untuk memilih tokoh dengan menegaskan ciri-ciri nilai, semangat, visi dan misi hidup yang lebih baik tanpa menyebutkan nama kandidat pemimpin yang harus dipilih, maka mereka sedang menyuarakan politik kesejahteraan.
Pemuka agama dan agama seyognyanya menjadi key maker, ‘ratu lebah’ bagi para kesatria. Tetapi ketika pemimpin agama memilih untuk turun derajat menjadi kaum kesatria, maka saya harap (ini opini pribadi ) politik kesejahteraanlah tujuan utamanya. Dan tidak salah bila saya ingatkan, godaan duniawi itu selalu datang dalam wajah yang indah, lembut dan menawan.

Advent Tarigan Tambun
RUMAH KOPI KARO (SOLO)…081385679240

Check Also

OPINI. GUARIOLA: CINTAILAH PEKERJAANMU! (terbit di harian TOPSKOR 27 Maret 2018)

¨Cintai apa yang kamu lakukan, dan lakukan apa yang kamu cintai.¨ Untaian kata-kata indah ini …

Deja un comentario

Tu dirección de correo electrónico no será publicada. Los campos obligatorios están marcados con *

13 + 8 =